Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Tertutup Selama Blokade AS Berlangsung
Iran: Selat Hormuz Tak Buka Selama Blokade AS

Iran Tegaskan Selat Hormuz Tetap Tertutup Selama Blokade AS Berlangsung

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf secara tegas menyatakan bahwa pembukaan kembali Selat Hormuz tidak mungkin terjadi selama Amerika Serikat (AS) terus mempertahankan blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Pernyataan ini disampaikan melalui platform media sosial X pada Kamis (23/4/2026), menanggapi kebijakan AS yang dinilai sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Blokade AS Dinilai Sebagai Pelanggaran Terang-Terangan

Ghalibaf menegaskan bahwa gencatan senjata yang telah disepakati antara Iran dan AS hanya memiliki makna jika tidak dilanggar melalui tindakan blokade angkatan laut. "Gencatan senjata lengkap hanya berarti jika tidak dilanggar melalui blokade angkatan laut AS. Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin di tengah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata," ujarnya, seperti dilansir dari AFP. Pernyataan ini menegaskan posisi Iran yang keras terhadap tekanan militer dari Washington.

Blokade yang dilakukan oleh militer AS terhadap pelabuhan Iran telah menjadi titik kritis dalam hubungan kedua negara, dengan Iran menganggapnya sebagai tindakan yang menghambat perdagangan dan kedaulatan nasional. Ghalibaf menekankan bahwa selama blokade ini tetap berlaku, Iran tidak akan mempertimbangkan untuk membuka Selat Hormuz, yang merupakan jalur strategis untuk transportasi minyak global.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kebijakan AS: Gencatan Senjata Diperpanjang, Blokade Tetap Berlanjut

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran, namun dengan catatan bahwa kebijakan blokade pelabuhan akan terus dilaksanakan. "Saya telah mengarahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan mampu," kata Trump, seperti dilaporkan Al Jazeera pada Rabu (22/4). Gencatan senjata ini pertama kali dimulai pada 7 April dan sempat akan berakhir sebelum akhirnya diperpanjang tanpa batas waktu.

Trump menjelaskan bahwa perpanjangan gencatan senjata ini akan berlangsung hingga proposal dari Iran diajukan dan diskusi diselesaikan. "Oleh karena itu akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan dan diskusi diselesaikan dengan satu atau lain cara," jelasnya. Namun, ia juga menyoroti kondisi internal Iran yang menurutnya terpecah belah, yang mempengaruhi proses negosiasi.

Iran dalam Situasi Politik yang Terpecah

Dalam pernyataannya, Trump menyinggung bahwa pemerintahan Iran saat ini sangat terpecah, sehingga AS masih menunggu kehadiran perwakilan Iran dalam negosiasi lanjutan yang dijadwalkan di Pakistan. "Berdasarkan fakta bahwa Pemerintah Iran sangat terpecah belah, yang tidak mengejutkan, dan atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir, dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami telah diminta untuk menunda serangan kami terhadap negara Iran sampai para pemimpin dan perwakilan mereka dapat mengajukan proposal yang terpadu," tutur Trump.

Pernyataan ini mengindikasikan bahwa ketegangan antara AS dan Iran masih tinggi, dengan blokade pelabuhan menjadi isu sentral yang menghambat kemajuan diplomasi. Iran, melalui pernyataan Ghalibaf, tetap bersikeras bahwa pembukaan Selat Hormuz tidak akan terjadi selama tekanan militer AS berlanjut, menegaskan komitmennya untuk melindungi kepentingan nasional di tengah situasi politik yang kompleks.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga