Elite Politik Israel Terkejut Dikritik Wapres AS soal MoU Iran
Elite Politik Israel Kaget Dikritik Wapres AS soal Iran

Tel Aviv – Kalangan elite politik Israel dikejutkan oleh kritikan tajam yang dilontarkan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance terhadap para menteri dalam pemerintahan Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu. Kritikan tersebut berkaitan dengan penolakan dan kecaman mereka terhadap kesepakatan damai AS-Iran.

Pemerintah Israel dilaporkan memilih untuk tidak menanggapi langsung kritikan Vance demi menghindari keretakan hubungan yang lebih dalam antara Tel Aviv dan Washington. Menurut laporan surat kabar lokal Israel, Yedioth Ahronoth, yang mengutip sumber-sumber terpercaya di Tel Aviv, seperti dilansir Middle East Monitor dan Anadolu Agency pada Sabtu (20/6/2026), kalangan politik di Israel merasa terkejut setelah Vance menyampaikan kritikannya secara terbuka.

“Situasi shock terjadi di kalangan politik Israel setelah pernyataan Wakil Presiden AS tersebut,” demikian laporan Yedioth Ahronoth pada Kamis (18/6).

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Pemerintah Israel Menahan Diri

Yedioth Ahronoth menambahkan bahwa pemerintah Israel memilih untuk tidak memberikan tanggapan publik terhadap kritikan Vance. Hal ini dilakukan karena kekhawatiran akan memperdalam perselisihan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump, terutama di tengah meningkatnya ketegangan terkait perjanjian AS-Iran dan perkembangan situasi di Lebanon.

“Pemerintah Israel memilih untuk tidak menanggapi secara publik komentar Vance karena takut memperdalam perselisihan dengan pemerintahan Presiden Donald Trump pada saat ketegangan meningkat terkait perjanjian AS-Iran dan perkembangan terkait Lebanon,” sebut laporan tersebut.

Isyarat Peninjauan Bantuan Militer

Menurut Yedioth Ahronoth, kritikan tajam Vance ditafsirkan sebagai isyarat kemungkinan peninjauan kembali tingkat dukungan militer AS untuk Israel. Jika kritikan publik terhadap kebijakan pemerintahan Trump terus berlanjut, hal ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan elite politik Israel.

Kritikan tersebut disampaikan Vance saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih pada Kamis (18/6) waktu setempat. Vance secara terang-terangan mengecam keras para pejabat Israel yang mengkritik nota kesepahaman (MoU) mengenai kesepakatan damai AS-Iran. Ia juga memperingatkan Tel Aviv bahwa Washington merupakan satu-satunya sekutu kuat yang masih tersisa bagi Israel di dunia, dan bahwa persenjataan Israel dibiayai oleh uang pajak AS.

“Jika saya berada dalam kabinet pemerintahan Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang saya miliki di seluruh dunia,” tegas Vance dengan nada marah.

Vance juga menyebutkan bahwa beberapa anggota pemerintah Israel secara pribadi menyerang Presiden Amerika Serikat. Ia kemudian secara eksplisit mengungkit soal bantuan militer besar-besaran yang telah diberikan AS kepada Israel.

“Selama tiga bulan terakhir, dua pertiga dari senjata pertahanan yang telah melindungi tanah air Anda telah dibangun oleh tangan Amerika dan dibayar dengan uang pajak Amerika,” tegasnya.

“Masalah bagi Israel bukanlah Donald J Trump, dan siapa pun di Israel yang berpikir masalah terbesar mereka adalah Presiden Amerika Serikat perlu bangun dan menyadari kenyataan situasi yang dihadapi negara tersebut,” ucap Vance.

Reaksi Menteri Israel

Kritikan terhadap MoU AS-Iran datang dari Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir dan Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich. Ben-Gvir menyatakan bahwa perjanjian AS-Iran tidak mengikat Israel dan menegaskan bahwa Israel tidak tunduk kepada Amerika Serikat. Sementara itu, Smotrich mengecam MoU tersebut sebagai kesepakatan yang buruk bagi Israel dan bagi seluruh dunia bebas.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga