Jakarta - Militer Israel kembali melancarkan serangan intensif di Jalur Gaza dengan target baru, yaitu Mohammed Awda, yang baru diangkat sebagai kepala sayap bersenjata Hamas. Dalam perkembangan terbaru, Israel mengklaim misi tersebut berhasil dan Awda tewas dalam serangan itu.
Israel Targetkan Mohammed Awda
Israel menyatakan bahwa serangan yang dilancarkan di Gaza menargetkan kepala baru sayap bersenjata Hamas. Serangan ini dilakukan di bawah arahan langsung Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan oleh Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz, disebutkan bahwa serangan tersebut menargetkan Mohammed Odeh, komandan baru sayap militer Hamas dan salah satu arsitek pembantaian 7 Oktober.
Odeh atau Awda diangkat sebagai kepala Brigade Ezzedine Al-Qassam setelah pendahulunya, Ezzedine Al-Haddad, tewas dalam serangan di Gaza pada awal Mei. Badan pertahanan sipil Gaza melaporkan bahwa seorang wanita tewas dalam serangan udara Israel di lingkungan Rimal, barat Kota Gaza.
Pernyataan Netanyahu dan Katz menambahkan bahwa Odeh menjabat sebagai kepala intelijen Hamas selama peristiwa 7 Oktober dan baru diangkat sekitar seminggu lalu sebagai pengganti Ezzedine Al-Haddad. Odeh disebut bertanggung jawab atas pembunuhan, penculikan, dan cedera sejumlah warga sipil Israel dan tentara IDF.
Awda Diklaim Tewas
Beberapa jam setelah serangan, tentara Israel mengklaim telah membunuh Awda. Ia tewas dalam serangan bom besar-besaran yang menghantam daerah padat penduduk di pusat Kota Gaza pada malam hari raya Idul Adha. Selain Awda, serangan ini juga menewaskan seorang wanita Palestina dan melukai beberapa lainnya, menurut sumber medis.
Hamas maupun sayap bersenjatanya, Brigade Qassam, belum memberikan komentar atas klaim Israel tersebut. Badan pertahanan sipil Gaza menyatakan bahwa lima orang menjadi martir dan beberapa lainnya terluka setelah serangan udara Israel menargetkan sekelompok warga di area Al-Maghazi bagian timur.
Israel diketahui telah membunuh lebih dari 72.000 orang dan melukai lebih dari 172.000 orang dalam dua tahun serangan brutal sejak Oktober 2023, yang juga menyebabkan kehancuran luas pada 90% infrastruktur sipil, sebelum gencatan senjata diumumkan pada Oktober lalu.



