Pejabat Program Pembangunan PBB mengungkap data mengerikan terkait kondisi di Gaza, Palestina. Menurut data tersebut, sekitar 8.000 jenazah diyakini masih tertimbun di bawah reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan Israel.
Proses Pembersihan Reruntuhan yang Sulit
Dilansir Al-Jazeera pada Senin (4/5/2026), surat kabar Haaretz melaporkan bahwa seorang pejabat anonim dari Program Pembangunan PBB mengungkapkan sulitnya proses pembersihan reruntuhan di Gaza. Proses tersebut diperkirakan dapat memakan waktu hingga 7 tahun. Selama proses itu, keluarga-keluarga Palestina terus menunggu untuk menemukan dan menguburkan kerabat mereka yang terkubur di bawah bangunan yang runtuh akibat bombardir Israel.
Pejabat PBB itu meyakini ada 8.000 jenazah yang masih tertimbun di Gaza. Keyakinan ini didasarkan pada data otoritas Pertahanan Sipil Palestina yang telah memperingatkan tentang kekurangan alat berat yang parah. Kekurangan tersebut memperlambat upaya pembersihan area kehancuran yang luas.
Pelanggaran Gencatan Senjata oleh Israel
Israel terus melakukan pelanggaran harian terhadap kesepakatan gencatan senjata yang ditandatangani pada Oktober 2025. Serangan selama gencatan senjata itu telah menewaskan 828 warga Palestina dan melukai 2.342 orang. Perang di Gaza sendiri telah berlangsung sejak Oktober 2023. Israel mengklaim serangannya merupakan pembalasan terhadap serangan Hamas ke wilayah mereka pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang.
Israel kemudian meluncurkan serangan militer besar-besaran selama dua tahun di Gaza yang telah menewaskan lebih dari 72.000 orang dan melukai 172.000 lainnya. Serangan Israel juga menghancurkan 90% infrastruktur sipil di Gaza. PBB memperkirakan biaya rekonstruksi sekitar 70 miliar dolar AS.
Pengepungan Kapal Bantuan oleh Israel
Selain serangan ke Gaza, militer Israel juga mengepung kapal-kapal sipil yang membawa bantuan ke Gaza. Militer Israel menangkap para aktivis yang menuju Gaza. Dilansir AFP, Israel mencegat lebih dari 50 kapal bantuan ke Gaza yang dibawa oleh Global Sumud Flotilla. Kapal-kapal itu berlayar dalam beberapa minggu terakhir dari Marseille di Prancis, Barcelona di Spanyol, dan Syracuse di Italia.
Dalam sebuah unggahan di X, Global Sumud Flotilla mengatakan kapal-kapal militer Israel telah secara ilegal mengepung armada di perairan internasional dan mengancam penculikan serta kekerasan. Komunikasi dengan 11 kapal telah terputus. Dalam pernyataannya, militer Israel disebut membawa senjata dan memerintahkan para aktivis untuk berlutut dengan todongan senjata.
Israel kemudian menangkap 175 orang aktivis yang berlayar. Israel menyebut kapal-kapal itu diarahkan ke Israel pada Kamis (30/4). Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan sekitar 175 aktivis dari lebih dari 20 kapal armada kondom sedang berlayar menuju ke Israel dengan damai, menggunakan julukan terbaru untuk mengejek armada kapal itu setelah kondom ditemukan dalam konvoi serupa sebelumnya.
Kecaman Turki
Turki mengutuk aksi Israel tersebut dan menyebutnya sebagai pembajakan. Kementerian Luar Negeri Turki mengecam Israel karena menyerang Armada Global Sumud yang berupaya menarik perhatian pada bencana kemanusiaan yang dihadapi rakyat Gaza. Turki menegaskan bahwa Israel telah menargetkan nilai-nilai kemanusiaan dan hukum internasional.



