Youssef Shtayyeh baru saja pulang sekolah pada suatu sore di bulan April 2026. Ia meletakkan tasnya di lorong rumah, lalu kembali keluar untuk menemui teman-temannya. Beberapa menit kemudian, remaja berusia 15 tahun itu tewas ditembak tentara Israel. Lokasi penembakan berada sekitar 100 meter dari rumahnya di Nablus, Tepi Barat utara.
Kematian yang Meningkat
Kematian Youssef bukan kasus tunggal di wilayah Palestina yang diduduki Israel sejak 1967. Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNICEF mencatat, rata-rata satu anak Palestina tewas setiap pekan di Tepi Barat sejak Januari 2025. Angka itu muncul setelah Israel melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap kelompok bersenjata Palestina di Tepi Barat utara. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan 2021, ketika rata-rata satu anak Palestina tewas setiap tiga pekan.
Dampak Operasi Militer
Operasi militer Israel yang intensif di Tepi Barat utara telah memicu peningkatan korban jiwa di kalangan anak-anak. Menurut data UNICEF, sejak awal 2025, setiap pekan ada satu anak yang kehilangan nyawa akibat konflik bersenjata. Hal ini menunjukkan eskalasi kekerasan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi ini memicu kekhawatiran komunitas internasional. Banyak pihak menyerukan perlindungan bagi anak-anak Palestina yang menjadi korban konflik. UNICEF terus memantau situasi dan mendesak semua pihak untuk menghentikan kekerasan terhadap anak-anak.



