Amerika Serikat (AS) memperketat skrining untuk mencegah penyebaran virus Ebola, termasuk pemeriksaan penumpang pesawat yang berasal dari daerah terkena wabah. Langkah ini diambil setelah seorang warga AS dinyatakan positif tertular Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC).
Skrining Bandara Diperketat
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengumumkan akan meningkatkan pemeriksaan di bandara bagi penumpang yang memiliki riwayat perjalanan ke wilayah terdampak. Selain itu, AS juga menangguhkan sementara layanan visa bagi pemegang paspor non-AS yang pernah bepergian ke daerah wabah dalam 21 hari terakhir.
Warga AS Tertular di Kongo
Manajer insiden respons Ebola CDC, Satish Pillai, mengonfirmasi bahwa seorang warga AS di DRC terpapar virus saat menjalankan pekerjaan di sana. "Orang tersebut mengalami gejala selama akhir pekan dan dinyatakan positif pada Minggu malam," ujar Pillai. Saat ini, upaya sedang dilakukan untuk memindahkan pasien ke Jerman guna mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Evakuasi dan Pemantauan
CDC juga berencana mengevakuasi enam orang tambahan dari DRC untuk dilakukan pemantauan kesehatan. Pillai menyebutkan ada sekitar 25 warga AS yang bekerja di kantor lapangan di DRC. CDC tengah memproses permintaan untuk mengirimkan koordinator teknis senior tambahan ke wilayah tersebut.
Penilaian Risiko
Meskipun ada kasus ini, CDC menilai risiko langsung terhadap masyarakat umum AS masih rendah. "Kami akan terus mengevaluasi situasi yang berkembang dan dapat menyesuaikan langkah-langkah kesehatan masyarakat seiring tersedianya informasi tambahan," demikian pernyataan CDC.
Pembatasan Perjalanan
Selain pemeriksaan di bandara, CDC menerapkan pembatasan masuk bagi pemegang paspor non-AS yang telah melakukan perjalanan ke Uganda, DRC, atau Sudan Selatan dalam 21 hari terakhir. Kedutaan Besar AS di Kampala, Uganda, juga telah menangguhkan sementara semua layanan visa dan memberitahukan pelamar yang terdampak.
Pernyataan Presiden Trump
Presiden Donald Trump menyatakan kekhawatirannya terhadap wabah ini, namun menilai bahwa saat ini wabah masih terbatas di Afrika. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya telah menyatakan wabah Ebola sebagai keadaan darurat kesehatan internasional setelah menewaskan puluhan orang di DRC.



