Hasan Nasbi Kritik Plesetan SPPG: Nalar Didiskon, Jutaan Pekerja Dihina
Hasan Nasbi Kritik Plesetan SPPG: Nalar Didiskon

Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, mengkritik keras pihak-pihak yang memplesetkan Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) menjadi 'Satuan Penjilat Prabowo-Gibran'. Menurutnya, pelabelan tersebut mencerminkan cara berpikir yang tidak berdasarkan fakta dan data.

Kritik terhadap Plesetan SPPG

Dalam unggahan video di Instagram, Senin (1/6), Hasan menyatakan bahwa ruang digital saat ini dipenuhi sikap sinis yang berkembang lebih cepat daripada upaya memeriksa kebenaran informasi. Akibatnya, nalar publik menjadi korban. "Ada orang yang bilang SPPG itu adalah satuan penjilat Prabowo-Gibran. Nah, ini kan sok paten juga, nalarnya di diskon juga ini," ujarnya.

SPPG Bukan Alat Politik

Hasan menegaskan bahwa SPPG merupakan bagian dari ekosistem program pemenuhan gizi yang menyasar sekitar 62 juta penerima manfaat, terdiri dari anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui di berbagai daerah. Program ini juga memberikan dampak ekonomi dengan menyerap sekitar 1,5 juta tenaga kerja di dapur pelayanan gizi. Oleh karena itu, tuduhan yang menyebut SPPG sebagai alat politik secara tidak langsung merendahkan jutaan pekerja yang terlibat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Kalau dia bilang SPPG itu satuan penjilat Prabowo-Gibran, berarti dia sedang mengata-ngatai 1,5 juta warga Indonesia yang bekerja di dapur SPPG sebagai penjilat Prabowo-Gibran. Dia juga sama sedang mengata-ngatai 62 juta penerima manfaat anak sekolah, ibu hamil, dan menyusui anak-anak balita. 62 juta penerima manfaat ini sebagai penjilat Prabowo-Gibran. Hati-hati kalau bicara," tegas Hasan.

Pentingnya Verifikasi Informasi

Hasan mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menerima informasi yang beredar di ruang publik maupun media sosial. Ia mengibaratkan informasi seperti makanan yang perlu dikunyah terlebih dahulu sebelum ditelan. Masyarakat perlu memeriksa fakta dan kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.

"Itu sama dengan informasi. Kalau ada informasi, resapi dulu. Cari dulu apa sih malasnya sekarang mencari informasi yang benar. Lihat dulu faktanya ini benar fakta yang sudah terjadi bertahun-tahun apa nggak. Cari dulu kebenarannya ini benar apa nggak. Jangan sampai nalar Anda kemudian dipotong-potong. Jangan sampai nalar Anda didiskon-diskon," jelasnya.

Jangan Biarkan Nalar Didiskon

Ia menambahkan, "Cukuplah tas yang didiskon. Cukuplah harga barang yang didiskon. Tapi nalar dan pikiran jangan sampai didiskon." Menurutnya, kebiasaan merespons sesuatu dengan kemarahan dan kebencian berisiko memperburuk kualitas diskusi publik.

Persatuan untuk Membangun Bangsa

Hasan menekankan bahwa Indonesia hanya bisa dibangun melalui persatuan dan kesatuan, bukan melalui sentimen negatif yang terus dipelihara. "Karena negara kita tidak dibangun dengan kemarahan. Negara kita tidak dibangun dengan kebencian. Justru negara kita hanya bisa dibangun dengan persatuan dan kesatuan," pungkasnya.

Ia berharap masyarakat lebih bijak dalam menyikapi informasi dan tidak mudah terprovokasi oleh tuduhan tanpa bukti. Program SPPG, lanjutnya, adalah program nyata yang memberikan manfaat bagi jutaan rakyat Indonesia dan harus didukung bersama.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga