Mensos: Kemiskinan Ortu Tak Boleh Jadi Takdir Anak, Negara Buka Pendidikan
Mensos: Kemiskinan Ortu Tak Boleh Jadi Takdir Anak

Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa semangat pemerintah dalam menyelenggarakan program Sekolah Rakyat adalah untuk memutus rantai kemiskinan antargenerasi. Ia menyatakan bahwa setiap anak dari keluarga miskin tidak boleh mewarisi kemiskinan di masa depan.

Negara Wajib Buka Akses Pendidikan

Pernyataan tersebut disampaikan Gus Ipul saat memberikan sambutan dalam seminar nasional bertajuk 'Menelaah Jejak Kepahlawanan Sutan Takdir Alisjahbana (STA): Kontribusi bagi Sastra, Bahasa, Pendidikan, dan Kebudayaan Indonesia' di Universitas Nasional, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).

"Semangat itu juga dapat kita lihat dalam ikhtiar pemerintah menyelenggarakan Sekolah Rakyat. Bukan persoalan gedung dan seragam, melainkan pernyataan moral negara bahwa kemiskinan orang tua tidak boleh menjadi takdir bagi anak-anaknya," kata Gus Ipul.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab penuh untuk memastikan setiap anak mendapatkan akses pendidikan yang layak. Hal ini merupakan kewajiban moral yang harus dijalankan oleh pemerintah.

Pendidikan sebagai Layar dan Kompas

Gus Ipul menekankan bahwa negara harus membuka jalan agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memperoleh pendidikan yang baik, di ruang yang aman untuk tumbuh, dan dengan keyakinan bahwa keadaan keluarga hari ini tidak menentukan seluruh masa depan mereka.

"Negara harus membuka jalan agar anak-anak tersebut memperoleh pendidikan yang baik, di ruang yang aman untuk tumbuh, dan keyakinan bahwa keadaan keluarga hari ini tidak menentukan seluruh masa depannya," ucapnya.

Ia juga mengaitkan semangat pendidikan dengan filosofi 'Layar Terkembang' karya Sutan Takdir Alisjahbana. "Di sinilah simbol 'Layar Terkembang' terasa sangat kuat. Layar dikembangkan agar kapal bergerak, dan pendidikan adalah layar bagi anak-anak Indonesia, sementara karakter, disiplin, dan nilai kebangsaan adalah kompasnya," imbuh Gus Ipul.

Persoalan Lansia dan Disabilitas

Dalam kesempatan yang sama, Mensos juga menyoroti persoalan sosial lainnya, yaitu meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia. Menurutnya, fenomena ini merupakan tanda keberhasilan pembangunan, namun juga menghadirkan tanggung jawab baru bagi negara.

"Bagaimana memastikan lanjut usia tetap sehat dan tidak merasa ditinggalkan? Dan bagaimana membangun layanan perawatan yang lebih dekat dengan keluarga dan komunitas? Persoalan ekonomi perawatan akan semakin penting dan kita memerlukan sistem yang tidak hanya membebankan tanggung jawab kepada keluarga, terutama perempuan, tetapi juga melibatkan komunitas dan pemerintah daerah," sambung dia.

Gus Ipul menegaskan bahwa lansia harus diperlakukan sebagai warga negara yang memiliki pengalaman dan martabat. Selain itu, penyandang disabilitas juga tidak boleh dipandang hanya dari keterbatasannya.

"Mereka harus memperoleh aksesibilitas dan kesempatan untuk berpartisipasi," katanya.

Seminar nasional ini merupakan bagian dari rangkaian acara untuk mengkaji kontribusi Sutan Takdir Alisjahbana dalam berbagai bidang, termasuk sastra, bahasa, pendidikan, dan kebudayaan Indonesia. Kehadiran Mensos dalam acara tersebut menunjukkan komitmen pemerintah untuk terus mendorong semangat kebangsaan dan pendidikan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga