Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin, 22 Juni 2026, setelah hampir dua tahun menjabat. Ia meraih kekuasaan pada 2024 dengan kemenangan telak Partai Buruh atas Partai Konservatif, namun kini menjadi perdana menteri paling tidak populer di Inggris dalam beberapa dekade, meskipun dihormati secara internasional.
Pidato Emosional Penuh Haru
Dalam pidato pengunduran dirinya, Starmer menyebut masa jabatannya sebagai perdana menteri adalah "momen paling membanggakan dalam hidupnya", tetapi ia menerima bahwa ia harus pergi "dengan lapang dada". Suaranya bergetar dan tampak menahan air mata saat memberi penghormatan kepada keluarganya, sebelum dipeluk oleh istrinya. Sebelumnya, dalam pidato pertamanya sebagai perdana menteri pada 5 Juli 2024, ia menjanjikan pemerintahan yang "berorientasi pelayanan" yang akan "lebih berhati-hati" dalam kehidupan masyarakat, seperti dilansir AFP.
Kesalahan Langkah dan Penurunan Popularitas
Starmer berusaha menjadikan pendekatan terukur sebagai keunggulan, namun sejak awal dihantui perubahan haluan dan kesalahan langkah yang membuat marah pendukung Partai Buruh. Mantan pengacara hak asasi manusia ini kesulitan menjadi sosok yang dapat diandalkan. Sikapnya yang ilmiah dan santai serta kurangnya ideologi membuat pemilih menjauh. Popularitasnya terus merosot akibat ketidakpuasan publik terhadap kondisi ekonomi, tingginya biaya hidup, masalah layanan publik, dan berbagai kontroversi.
Pujian Internasional dan Pencapaian Domestik
Starmer dipuji karena berani melawan Presiden AS Donald Trump terkait perang Iran dan mempertahankan dukungan Eropa untuk Ukraina. Ia juga menyambut baik langkah memperkuat hubungan dengan Uni Eropa pasca-Brexit. Dalam pidato pengunduran dirinya, ia menyoroti pencapaiannya, termasuk penurunan daftar tunggu Layanan Kesehatan Nasional. Namun, kolom-kolom pedas di media Inggris menggambarkannya sebagai sosok yang kurang teguh pendirian, ragu-ragu, dan siap mengorbankan orang lain.
Pemicu Mundur: Kemenangan Andy Burnham
Puncaknya adalah ketika rival utamanya, Andy Burnham, memenangkan pemilihan sela parlemen. Kemenangan itu dipandang sebagai sinyal bahwa banyak anggota Partai Buruh melihat Burnham sebagai figur yang lebih mampu mengembalikan elektabilitas partai. Burnham kini menjadi kandidat terkuat untuk menggantikan Starmer. Dalam pidatonya, Starmer mengatakan, "Partai saya kini mempertanyakan apakah saya masih merupakan sosok yang paling tepat untuk memimpin kami menghadapi pemilihan umum berikutnya. Saya telah mendengar jawaban dari rekan-rekan saya di Partai Buruh mengenai pertanyaan tersebut, dan saya menerima keputusan itu dengan lapang dada."
Penutup: Akhir Sebuah Era
Starmer menegaskan, "Setiap keputusan yang saya ambil adalah untuk mengutamakan negara yang saya cintai. Itulah mengapa saya akan mengundurkan diri sebagai pemimpin Partai Buruh." Pengunduran dirinya menandai akhir dari era singkat kepemimpinan yang dimulai dengan harapan besar namun berakhir dengan kekecewaan publik.



