Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM) Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin, melontarkan kritik tajam terhadap akademisi yang dinilai kehilangan sikap kritis ketika masuk ke dalam birokrasi. Dalam pernyataannya pada Jumat (3/7), ia menyoroti fenomena banyak akademisi yang justru meninggalkan prinsip keilmuan demi menyesuaikan diri dengan kepentingan atasan.
Akademisi Tak Berani Menyampaikan Kebenaran
"Tidak berani ngomong 'qulil haqqo walau kana murran' [Katakanlah kebenaran, meskipun itu pahit], tidak berani bilang, 'Pak, jangan begini. Kalau begini, gagal.' Begitu jadi birokrat malah ABS--asal bapak senang. Itu tidak bisa," ujar Cak Imin dalam keterangan resminya. Ia mencontohkan ada guru besar yang sangat taat pada ilmu saat mengajar di kampus, tetapi begitu menjadi birokrat seakan lupa akan hal tersebut.
Birokrat Harus Pegang Prinsip Kebenaran
Cak Imin menegaskan bahwa seorang birokrat seharusnya memegang prinsip untuk senantiasa menyampaikan kebenaran, meskipun pahit. Ia meminta perguruan tinggi mengambil peran sebagai pengawal intelektual terhadap kebijakan publik. Menurutnya, kampus tidak hanya bertugas menghasilkan riset dan inovasi, tetapi juga harus memastikan setiap kebijakan dijalankan sesuai kaidah akademik sehingga mampu menjawab tantangan pembangunan.
"Mengawal pertanggungjawaban intelektualnya, mengawal pertanggungjawaban ilmu pengetahuannya sehingga politik anggarannya benar," kata Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu.
Budaya ABS Hambat Kebijakan Berkualitas
Selain itu, Cak Imin juga mengingatkan bahaya budaya 'Asal Bapak Senang' (ABS) di kalangan birokrat. Ia menyatakan budaya ABS itu menghambat lahirnya kebijakan yang berkualitas. Menurutnya, seorang pemimpin justru membutuhkan masukan yang jujur dan berbasis fakta. "Harus menyampaikan apa adanya. Pimpinan justru lebih senang kalau diingatkan apa adanya," ucap dia.
Pernyataan Cak Imin ini menjadi pengingat bagi akademisi yang beralih profesi menjadi birokrat agar tetap memegang teguh sikap kritis dan integritas keilmuan demi kemajuan bangsa.



