Dalam suasana silaturahmi yang hangat pada minggu kedua Syawal 1447 Hijriah, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menghadiri apel pagi di Gedung Sate, Bandung, pada Senin (30/3/2026). Acara ini menjadi momen penting bagi dirinya untuk menyampaikan visi kepemimpinan yang tidak konvensional, yang diharapkan dapat membawa perubahan signifikan bagi masa depan Jawa Barat.
Transformasi Pola Kerja Pemerintah
Dalam pidatonya, Dedi Mulyadi menegaskan pentingnya melakukan perubahan mendasar dalam pola kerja di lingkungan pemerintah daerah. Ia secara khusus menyoroti sistem rekrutmen tenaga kerja yang selama ini dinilai terlalu menekankan pada gelar akademik, ketimbang kemampuan teknis yang dibutuhkan di lapangan.
"Kita perlu bergeser dari paradigma yang hanya melihat kertas ijazah, menuju pengakuan atas kompetensi nyata yang dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat," ujar Dedi Mulyadi dengan penuh semangat.
Makna 'Gubernur Pinggiran'
Lebih lanjut, Dedi Mulyadi memperkenalkan konsep dirinya sebagai "Gubernur Pinggiran". Ia menjelaskan bahwa pendekatan kepemimpinannya ini tidak hanya berfokus pada kerja di balik meja atau ruang rapat yang nyaman, tetapi lebih menekankan pada kehadiran langsung di tengah-tengah masyarakat.
Visi ini mencerminkan komitmennya untuk:
- Meningkatkan interaksi dan komunikasi dengan warga di berbagai daerah.
- Memahami masalah secara langsung dari akarnya, tanpa hanya mengandalkan laporan tertulis.
- Mendorong inovasi kebijakan yang lebih responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat.
Dengan demikian, apel pagi di Gedung Sate tidak sekadar rutinitas seremonial, melainkan menjadi platform strategis bagi Dedi Mulyadi untuk menggaungkan perubahan menuju pemerintahan yang lebih efektif dan dekat dengan rakyat.



