Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) Said Abdullah memberikan tanggapan terkait momen keakraban antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri yang terlihat bergandengan tangan usai Upacara Hari Lahir Pancasila. Menurut Said, hubungan keduanya dapat dipahami dari tiga aspek utama.
Aspek Pertama: Persahabatan Lama
Said menjelaskan bahwa Prabowo dan Megawati telah menjalin pertemanan selama puluhan tahun. Keduanya pernah bersama-sama berjuang dalam kontestasi pemilihan presiden tahun 2009 sebagai pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden. Meskipun Pilpres 2009 telah usai, pertemanan dan silaturahmi mereka terus berlanjut. Bahkan ketika PDIP mencalonkan Joko Widodo (Jokowi) pada Pilpres 2014 dan 2019, hubungan keduanya tetap terjaga dengan baik. Said menegaskan, "Persahabatan kedua beliau ini kokoh, bukan hanya sebatas pertemanan nasi goreng yang seringkali dilihat oleh publik. Pertemanan kedua beliau ini tulus, tak ada cela."
Aspek Kedua: Kepercayaan Kenegaraan
Aspek kedua adalah posisi Megawati yang saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Meskipun presiden telah berganti dan PDIP bukan bagian dari pemerintahan, Prabowo tetap mempercayakan tugas kenegaraan tersebut kepada Megawati. Said menyatakan, "Artinya, Presiden Prabowo memandang Ibu Mega memiliki kapasitas kenegarawanan, demikian halnya Presiden Prabowo, sehingga urusan tersebut melampaui urusan politik praktis." Menurut Said, lembaga negara seperti BPIP memang harus dijabat oleh negarawan yang gigih menanamkan nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, kemesraan pada acara peringatan Hari Pancasila merupakan manifestasi dari hal ini.
Aspek Ketiga: Pandangan Politik Kebangsaan
Aspek ketiga adalah hubungan Megawati dan Prabowo yang berdiri di atas pandangan politik kebangsaan. Perbedaan jalan politik, di mana PDIP berperan sebagai partai penyeimbang, tidak dimaknai oleh Prabowo sebagai musuh. Said mencontohkan, "Bahkan dalam Pidato Presiden Prabowo di DPR tanggal 20 Mei lalu, beliau menghormati dan mengapresiasi berbagai lontaran masukan yang diberikan kader-kader PDI Perjuangan di DPR." Menurut Said, kedua tokoh ini sudah berada pada level political beyond, berpolitik untuk bangsa dan negara, bukan semata-mata kekuasaan.
Said menilai ketiga fondasi ini menjadi alasan mengapa hubungan Megawati dan Prabowo tetap awet dan tidak ternoda, meskipun partai mereka memiliki haluan politik yang berbeda. Ia menambahkan, "Saya kira keteladanan ini pula yang diikuti oleh jajaran pada Fraksi PDI Perjuangan dan Gerindra di DPR. Kedua fraksi bisa cair saling berdiskusi, bertukar pandangan dalam membahas kebijakan dan program-program pemerintah, meskipun dalam beberapa hal terjadi perbedaan pandangan, namun keduanya tetap memahami posisi masing-masing dan saling menghargai sebagai sahabat politik yang tetap bisa bersinergi."



