Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras bahwa Washington mungkin akan meningkatkan postur militernya di Selat Hormuz apabila kesepakatan dengan Iran tidak kunjung tercapai. Trump mengancam untuk melanjutkan kembali operasi militer Project Freedom, bahkan memperluas cakupannya.
Ancaman Perluasan Misi Militer
"Kita akan menempuh jalur yang berbeda jika semuanya tidak ditandatangani dan diselesaikan," kata Trump saat berbicara kepada wartawan di Gedung Putih, seperti dilansir Anadolu Agency dan Middle East Monitor, Sabtu (9/5/2026).
Ketika ditanya apakah AS akan kembali melanjutkan Project Freedom, Trump menjawab "Saya rasa tidak", tetapi menambahkan bahwa AS masih "mungkin akan melanjutkannya". Ia kemudian menjelaskan bahwa Pakistan, yang menjadi mediator perundingan Washington dan Teheran, telah meminta AS untuk tidak melanjutkan operasi militer tersebut.
"Kita mungkin akan kembali ke Project Freedom jika semuanya tidak berjalan lancar," ucap Trump. "Ini akan menjadi Project Freedom Plus, artinya Project Freedom ditambah hal-hal lainnya," sebutnya, tanpa menjelaskan langkah-langkah yang akan dilakukan dalam operasi militer yang diperluas tersebut.
Latar Belakang Project Freedom
Project Freedom merupakan misi militer AS yang bertujuan memandu kapal-kapal dari negara-negara netral untuk melintasi Selat Hormuz secara aman. Misi ini dimulai pada Senin (4/5) waktu setempat dan berpotensi menantang langkah Iran yang membatasi pelayaran di jalur perairan strategis tersebut. Namun, misi militer AS itu ditangguhkan sejak awal pekan ini setelah beroperasi selama 36 jam.
Trump, pada Selasa (5/5) waktu setempat, mengumumkan penghentian sementara Project Freedom untuk memulihkan kebebasan navigasi bagi pelayaran komersial melalui Selat Hormuz. Meski demikian, ia menegaskan bahwa blokade laut oleh AS tetap "berlaku sepenuhnya".
Dampak Blokade dan Serangan Sebelumnya
Aktivitas pelayaran melintasi Selat Hormuz secara efektif ditutup oleh Iran sejak AS dan Israel melancarkan serangan skala besar pada 28 Februari lalu. Sebagai respons, AS memberlakukan blokade laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di sekitar Selat Hormuz sejak pertengahan April lalu.
Ancaman Trump ini muncul di tengah ketegangan yang masih tinggi antara AS dan Iran, dengan Selat Hormuz menjadi titik strategis yang vital bagi pasokan energi global.



