Pada Kamis (18/6) dini hari, kapal penyapu ranjau Fulda dan kapal pendukung Mosel milik Jerman melintasi Terusan Suez, demikian pengumuman Kementerian Pertahanan Jerman di Berlin. Kedua kapal sebelumnya bertugas di Mediterania timur.
Perjalanan Menuju Selat Hormuz
Dalam lima hingga tujuh hari ke depan, armada Bundeswehr dijadwalkan melintasi Laut Merah sebelum singgah di pelabuhan Djibouti. Dari sana, sekitar 140 personel Angkatan Laut Jerman akan mempersiapkan kemungkinan operasi penyapuan ranjau di Selat Hormuz.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius, saat berada di Brussel, Belgia, pada Kamis pagi, mengatakan perintah penempatan dikeluarkan sebagai persiapan bagi "kemungkinan misi damai di Selat Hormuz". Kata kuncinya adalah "kemungkinan", karena hingga kini belum semua syarat terpenuhi, meskipun Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati gencatan senjata untuk melanjutkan perundingan damai.
Syarat Misi Damai
Menurut Kementerian Pertahanan Jerman, syarat utama mencakup berakhirnya pertempuran secara berkelanjutan, adanya dasar hukum internasional, serta mandat dari parlemen Jerman, Bundestag. Sesuai aturan, setiap pengerahan militer bersenjata Bundeswehr ke luar negeri harus memperoleh persetujuan parlemen.
Keahlian Jerman dalam Pembersihan Ranjau Laut
Pembersihan ranjau laut merupakan salah satu keunggulan Bundeswehr. "Dalam hal ini kami memiliki banyak pengalaman," ujar Johannes Peters, pakar keamanan maritim dari Institut Kebijakan Keamanan Universitas Kiel, kepada DW. Menurut Peters, Laut Utara dan Laut Baltik merupakan dua kawasan laut di dunia dengan jumlah terbesar sisa bahan peledak yang belum meledak dari Perang Dunia I dan II. Jutaan objek seperti ranjau, amunisi, dan berbagai jenis bahan peledak masih berada di dasar laut.
"Karena kawasan itu pada dasarnya adalah wilayah operasi kami, kami memiliki keahlian besar, termasuk dalam menangani dan membersihkan bom yang gagal meledak," kata Peters.
Selat Hormuz sebagai Alat Tekan Strategis
Setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari, Iran secara de facto menutup Selat Hormuz dengan menyebar ranjau laut secara acak. Perusahaan perkapalan bereaksi dengan menunda atau menghindari Teluk Persia, yang berdampak pada anjloknya suplai minyak dan gas alam cair global. Di seluruh dunia, harga bahan bakar melonjak tajam.
Agar jalur sempit itu bisa kembali dilalui kapal dagang, perang harus sepenuhnya berhenti dan ranjau yang telah disebar harus disapu. Namun, "ranjau laut sangat sulit ditemukan," kata Nitya Labh, pakar keamanan maritim dari lembaga kajian Chatham House di London, kepada DW.
Menurut dia, terdapat berbagai jenis ranjau laut: ranjau yang mengapung di permukaan, ranjau yang ditambatkan di dasar laut tetapi tetap menggantung di dalam air dan meledak ketika mendeteksi kapal di sekitarnya, serta ranjau yang diletakkan langsung di dasar laut. Bahkan setelah posisi ranjau diketahui, proses pembersihannya bisa berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Iran pun mengaku tidak mengetahui semua lokasi ranjau, karena sebagian hanyut terbawa arus laut.
Mudah Dipasang, Sulit Dijinakkan
"Kami tidak mengetahui jumlah pasti ranjau, maupun area spesifik tempat ranjau tersebut ditempatkan. Jadi ada banyak ketidakpastian," kata Johannes Peters. Dia menegaskan bahwa operasi pembersihan ranjau tidak bisa dilakukan dengan prosedur baku. Menempatkan ranjau laut dapat dilakukan dengan cepat, tetapi membersihkannya membutuhkan waktu yang jauh lebih lama. "Namun memang untuk itulah kapal pemburu ranjau dirancang," ujarnya.
Kapal pemburu ranjau Angkatan Laut Jerman didesain untuk menemukan ranjau tanpa terdeteksi oleh perangkat pemicu ranjau itu sendiri. Kapal-kapal tersebut memiliki lambung dari baja nonmagnetis. Banyak ranjau modern bereaksi terhadap medan magnet yang dihasilkan oleh kapal berbahan baja. Selain itu, suara baling-baling dan mesin kapal juga dapat memicu ledakan ranjau. Karena alasan itulah kapal pemburu ranjau mampu bergerak dengan sangat senyap.
Sistem nirawak menjadi perangkat yang tak tergantikan dalam operasi semacam ini. Kapal seperti Fulda membawa drone permukaan jenis Seehund, yang dapat meniru jejak suara dan medan magnet kapal besar untuk memancing ranjau meledak. Selain itu, drone bawah laut Seefuchs dapat mengidentifikasi sekaligus menghancurkan ranjau. Bila teknologi mencapai batas kemampuannya, penyelam ranjau akan diterjunkan.
Misi Bergantung pada Kesepakatan Politik
Salah satu syarat penting bagi terlaksananya misi pembersihan ranjau adalah persetujuan dari negara-negara sekitar, termasuk Oman, serta pihak-pihak yang terlibat konflik. "Iran tentu harus menyetujuinya," kata Peters. "Mereka harus menerima bahwa angkatan laut negara lain membantu pembersihan ranjau di Selat Hormuz." Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan sekitar 20 negara telah menyatakan komitmen konkret untuk berkontribusi dalam misi tersebut.
Menurut Nitya Labh dari Chatham House, sangat penting bagi Jerman, Prancis, dan Inggris—apabila ikut serta—untuk menegaskan bahwa mereka bukan pihak dalam konflik dan tidak berpihak kepada Amerika Serikat maupun Iran. Dia juga menilai keterlibatan angkatan laut negara-negara Teluk seperti Oman atau Arab Saudi dalam misi tersebut akan menjadi langkah yang positif.
Negosiasi Baru Dimulai
Apakah misi penyapuan ranjau di Selat Hormuz akan terlaksana juga bergantung pada implementasi kesepakatan kerangka antara Iran dan Amerika Serikat. Kesepakatan itu menjadi titik awal perundingan mengenai sejumlah persoalan yang masih diperdebatkan, terutama program nuklir Iran. Perundingan tersebut ditargetkan menghasilkan kesepakatan final dalam waktu 60 hari.
Kanselir Jerman Friedrich Merz pada Rabu (17/6) sebelumnya telah meredam harapan akan dimulainya misi Bundeswehr dalam waktu dekat. Menurut perkiraannya, Bundestag baru akan membahas mandat operasi pada pekan sidang terakhir sebelum masa reses musim panas yang dimulai pada 6 Juli. Meski demikian, Angkatan Laut Jerman sudah mengambil posisi. "Kami siap. Jika saatnya tiba, kami akan siap," kata Menteri Pertahanan Boris Pistorius.
Apabila operasi benar-benar dimulai, kapal-kapal Jerman dapat segera bergerak menuju Selat Hormuz. Hingga saat itu, mereka tetap menjalankan tugas dalam misi maritim Uni Eropa ASPIDES yang mengawasi jalur pelayaran di Laut Merah.



