Mundurnya PM Inggris: Ancaman Baru bagi Keamanan Eropa?
Mundurnya PM Inggris dan Dampaknya pada Keamanan Eropa

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin (22/06/2026). Di dalam negeri, popularitasnya ambruk. Namun di seberang Selat Inggris, dia meninggalkan jejak yang sulit diabaikan. Menanggapi pengunduran diri Starmer, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menulis, "Keamanan Eropa dan Ukraina menjadi lebih kuat berkat Anda. Terima kasih, Keir."

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Starmer untuk Ukraina, serta upayanya mempererat kembali hubungan antara Uni Eropa dan Inggris.

Dukungan Starmer untuk Ukraina

Di Eropa, Starmer terkenal atas dukungannya terhadap Ukraina dalam perang melawan Rusia. Bersama Macron, dia memimpin kelompok "Koalisi Negara yang Bersedia". Aliansi ini beranggotakan 35 negara yang memberikan bantuan militer kepada Ukraina. Jika suatu hari senjata benar-benar terdiam, kelompok ini diproyeksikan ikut menopang pertahanan jangka panjang Ukraina.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Tidak heran, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy ikut menyampaikan ucapan terima kasih kepada Starmer melalui platform media sosial X. Direktur Program Inggris Chatham House Olivia O'Sullivan menyebut, Starmer merupakan mitra aktif dan dapat diandalkan dalam "Koalisi Negara yang Bersedia". Menurut O'Sullivan, Starmer bekerja sama dengan para pemimpin Eropa untuk memastikan mereka berperan dalam menjaga perdamaian. Padahal, dia juga tengah kesulitan memenuhi target belanja pertahanannya karena keterbatasan anggaran. Ini merupakan tantangan yang mungkin juga akan dihadapi oleh PM Inggris berikutnya.

Peran Inggris dalam Kebijakan Eropa

Inggris juga memainkan peran penting dalam mendukung Ukraina melalui kelompok E3 yang beranggotakan Jerman, Prancis, dan Inggris. Kerangka kerja ini bertujuan untuk mengoordinasikan kebijakan luar negeri dan keamanan ketiga negara tersebut. Menurut O'Sullivan, kelompok E3 menjadi salah satu penggerak utama berbagai strategi Eropa. Tidak hanya terkait Ukraina, tetapi juga dalam menyikapi Amerika Serikat yang juga punya dampak dalam keamanan Eropa. Sebagai contoh, kelompok E3 bertanggung jawab atas penyusunan respons terhadap tuntutan Amerika Serikat. Saat itu, AS mempertanyakan kontribusi negara-negara Eropa dalam menjaga keamanan Selat Hormuz.

Dengan kepergian Starmer, Eropa kini harus beradaptasi dengan perdana menteri Inggris yang baru. Namun, O'Sullivan menilai perubahan tersebut tidak akan menjadi hambatan besar. Walau demikian, dia mengakui bahwa lengsernya Starmer dapat mengurangi momentum kerja sama dalam kelompok E3.

Burnham Jadi Pengganti Potensial Starmer

Hubungan Inggris dengan Uni Eropa ke depan akan sangat bergantung pada pengganti Starmer. Saat ini, mantan Wali Kota Manchester Andy Burnham disebut-sebut sebagai kandidat terkuat. O'Sullivan mengatakan, Burnham secara umum dikenal memiliki pandangan pro-Eropa. Burnham diperkirakan akan melanjutkan pendekatan Starmer terhadap Uni Eropa dan Ukraina. Di sisi lain, Burnham lebih banyak fokus pada isu-isu domestik selama ini. Dengan begitu, O'Sullivan masih sulit memprediksi arah kepemimpinannya secara pasti. Belum jelas apakah dia akan memberikan prioritas yang sama terhadap kebijakan luar negeri seperti yang dilakukan Starmer.

Menurut O'Sullivan, salah satu pencapaian terbesar Starmer di bidang luar negeri adalah kemitraan keamanan Uni Eropa-Inggris. Ini diresmikan tahun lalu dalam KTT Uni Eropa-Inggris pertama sejak Brexit. Sebelum menjabat, Starmer mengampanyekan hubungan yang lebih baik dengan Uni Eropa. Adapun sejumlah pencapaian yang meliputi mobilitas pemuda, pertukaran pelajar, dan sektor perikanan.

KTT Uni Eropa-Inggris Ditunda

Kemitraan yang disepakati pada Mei 2025 dirancang untuk memperluas kerja sama terkait Ukraina dan berbagai inisiatif keamanan/pertahanan lainnya. Kesepakatan itu juga menganjurkan ruang dialog rutin untuk Uni Eropa dan Inggris. Namun, O'Sullivan mengatakan bahwa Inggris hanya memperoleh akses terbatas ke program SAFE (Security Action for Europe) mereka. Sebagai informasi, program ini merupakan pendanaan Uni Eropa senilai €150 miliar (Rp3.060 triliun) untuk mempercepat kesiapan pertahanan negara-negara anggota. Inggris tidak dapat berpartisipasi penuh pada November lalu karena menolak membayar biaya partisipasi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Meski demikian, hubungan Inggris dan Uni Eropa diperkirakan akan tetap menjadi prioritas yang harus dihadapi oleh perdana menteri Inggris berikutnya. Pada Senin (22/06), Antonio Costa mengumumkan KTT Uni Eropa-Inggris yang semula dijadwalkan pada 22 Juli, ditunda.