Rusia: Senjata Nuklir Satu-satunya Pencegah Perang Global
Rusia: Senjata Nuklir Pencegah Perang Global

Pemerintah Rusia menegaskan bahwa senjata nuklir merupakan satu-satunya alat yang mampu mencegah dunia terjerumus ke dalam perang global. Pernyataan ini disampaikan di tengah kekhawatiran akan perlombaan senjata baru yang melibatkan banyak negara, setelah berakhirnya Perjanjian New START antara Rusia dan Amerika Serikat pada Februari lalu.

Kremlin: Sistem Keamanan Global Sedang Terkikis

Dalam forum kebijakan luar negeri di Moskow, Rabu (24/6/2026), juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menyatakan bahwa sistem keamanan global saat ini sedang mengalami erosi. "Faktanya, kita tidak memiliki apa pun lagi di dunia ini selain pencegah nuklir. Itu satu-satunya hal yang melindungi dunia dari perang global," ujar Peskov seperti dilansir AFP.

Peskov juga menambahkan bahwa seiring perkembangan teknologi, senjata non-nuklir jenis baru akan muncul dan mungkin memiliki daya hancur yang setara dengan senjata nuklir. Hal ini semakin memperkuat argumen Rusia tentang pentingnya pencegah nuklir.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Berakhirnya New START dan Dampaknya

Berakhirnya Perjanjian New START pada Februari 2026 menandai pertama kalinya dalam beberapa dekade tidak ada perjanjian yang membatasi pengerahan senjata nuklir kedua negara adidaya. Perjanjian yang ditandatangani pada 2010 itu membatasi Rusia dan AS masing-masing hanya memiliki 1.550 hulu ledak nuklir yang dikerahkan.

Sejauh ini, belum ada tanda-tanda pembaruan atau penggantian perjanjian tersebut, meskipun Moskow dan Washington sepakat untuk membangun kembali pembicaraan militer tingkat tinggi. Sebelum perjanjian berakhir, kedua negara saling menuduh gagal mematuhi ketentuan.

Retorika Nuklir Putin dan Desakan AS

Presiden Rusia Vladimir Putin telah berulang kali melontarkan retorika nuklir selama invasi militer ke Ukraina yang telah berlangsung empat tahun. Retorika tersebut dituding sebagai gertakan sembrono oleh AS dan Eropa. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mendesak perjanjian baru yang melibatkan China, yang persenjataan nuklirnya terus bertambah meski masih jauh di bawah Rusia atau AS. Beijing menolak tekanan tersebut.

Rusia menyatakan bahwa jika China dilibatkan, maka sekutu nuklir AS seperti Inggris dan Prancis juga harus diikutsertakan dalam perjanjian baru. Situasi ini menambah kompleksitas upaya pengendalian senjata nuklir global.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga