Komisi Eropa mengambil langkah tegas dengan memblokir pendanaan Uni Eropa bagi teknologi surya buatan China. Keputusan yang diambil pada 4 Mei 2026 ini didasari kekhawatiran bahwa teknologi tersebut dapat menjadi ancaman keamanan terhadap jaringan listrik Eropa, bahkan berpotensi menyebabkan pemadaman listrik total.
Fokus pada Inverter Surya
Larangan pendanaan ini menyasar inverter surya atau pembalik daya, yang merupakan komponen vital dalam sistem panel surya. Inverter berfungsi mengubah energi surya menjadi listrik yang dapat digunakan. Perangkat ini terhubung ke internet dan sering kali dapat diakses dari jarak jauh untuk pemeliharaan dan pembaruan perangkat lunak.
Christoph Podewils, sekretaris jenderal European Solar Manufacturing Council, mengungkapkan bahwa semua perusahaan pembuat inverter memiliki tombol emergency stop atau pemutus darurat. Tombol ini dan pengendali koneksi jarak jauh lainnya biasanya digunakan untuk keamanan atau stabilisasi jaringan. Namun, para ahli keamanan siber memperingatkan bahwa dalam skenario terburuk, peretas atau aktor negara yang bermusuhan dapat memanfaatkan koneksi jarak jauh tersebut untuk mengganggu pasokan listrik.
Skenario Terburuk: Pemadaman Listrik di Seluruh Eropa
Ahli keamanan siber Swantje Westphal menyatakan bahwa skenario terburuk adalah pemadaman listrik berskala besar di seluruh Eropa. Pada tahun 2024, 61% dari seluruh inverter yang diimpor ke Eropa berasal dari China, menurut Organisasi Riset Loom yang berbasis di Jenewa.
Huawei dan Sungrow menjadi dua produsen inverter yang mendominasi pasar Eropa dan global. Sejumlah produsen asal China telah menyediakan perangkat keras untuk lebih dari 220 gigawatt kapasitas PLTS terpasang di Eropa. Podewils menambahkan bahwa mengendalikan sekitar 10 gigawatt saja sudah cukup untuk menciptakan gangguan besar pada jaringan listrik Eropa.
Perangkat Komunikasi Berbahaya dalam Inverter China?
Sejauh ini, belum ditemukan kasus inverter China yang digunakan untuk mematikan sebagian jaringan listrik di Eropa. Namun, kekhawatiran meningkat setelah Reuters melaporkan pada tahun 2025 bahwa otoritas energi AS menemukan perangkat komunikasi berbahaya di dalam beberapa inverter buatan China. Westphal menegaskan bahwa ancaman ini nyata dan bukan hipotesis yang dibuat-buat.
Dominasi Teknologi Ramah Lingkungan China di Eropa
Perdebatan mengenai inverter ini muncul saat Eropa kembali mengevaluasi ketergantungannya pada impor teknologi bersih dari China. Menurut Loom, China mengekspor 98% panel surya dan 88% baterai lithium-ion ke Eropa. Loom memperingatkan bahwa fungsi pengendali jarak jauh yang terhubung dengan teknologi energi tersebut berpotensi menciptakan kerentanan pada seluruh sistem tenaga listrik.
Brussels kian bertindak tegas atas impor teknologi China yang dinilai berisiko. Pada bulan Maret, Komisi Eropa memaparkan RUU Akselerator Industri yang bertujuan mengarahkan lebih banyak pendanaan pada teknologi hijau buatan Eropa, termasuk baterai dan kendaraan listrik. Komisi Eropa juga memaparkan revisi RUU Keamanan Siber yang memberikan wewenang lebih besar kepada Brussel untuk membatasi keterlibatan perusahaan China pada infrastruktur kritis di seluruh negara anggota Uni Eropa.
Kebijakan Terbaru dan Dampaknya
Lewat kebijakan terbarunya, dana Uni Eropa yang dikelola langsung oleh Komisi dan lembaga-lembaga seperti Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan tidak lagi dapat digunakan untuk membeli inverter surya buatan China. Pembatasan tersebut tidak berlaku untuk pembelian yang dilakukan secara langsung oleh negara-negara anggota Uni Eropa. Inverter buatan China yang sudah terpasang di seluruh Eropa dapat tetap beroperasi.
Westphal menilai langkah ini sebagai arah yang benar, namun menekankan bahwa inverter China belum dilarang dari pasar Eropa.
Dapatkah Inverter Eropa Mengisi Kekosongan?
Saat ini, 80% sistem PLTS baru di Eropa bergantung pada inverter buatan China, menurut Dewan Manufaktur Panel Surya Eropa. Jika permintaan tidak diisi oleh produsen China, maka produsen Eropa harus mengisi kekosongan yang signifikan. Podewils yakin bahwa pemasok Eropa sudah siap dan mampu meningkatkan kapasitas produksi dalam beberapa bulan untuk memenuhi permintaan.
Inverter buatan Eropa diperkirakan 2% lebih mahal daripada produk alternatif dari China, menurut seorang pejabat Komisi Eropa. Namun, Podewils berpendapat bahwa biaya tambahan tersebut dapat dibenarkan sebagai biaya asuransi untuk perlindungan dari risiko di masa depan.



