Anggota Tim Pengawas Haji DPR RI, Selly Andriany Gantina, mengungkapkan sejumlah persoalan dalam pelayanan jemaah haji Indonesia, khususnya di Mina. Temuan tersebut meliputi fasilitas tenda yang tidak nyaman, toilet dengan sanitasi buruk, distribusi logistik yang terhambat, serta layanan kesehatan yang minim.
Fasilitas Tenda dan Toilet Tidak Layak
Selly menyoroti kondisi tenda yang dipaksakan untuk menampung jemaah dengan sangat berdesakan. "Saya menemukan beberapa temuan terkait fasilitas tenda, terutama fasilitas toilet. Kemudian tenda yang ternyata tidak nyaman untuk para jemaah, di mana dipaksakan untuk jemaah berdempet-dempetan," ujar Selly kepada wartawan pada Sabtu (30/5/2026). Ia juga menekankan masalah sanitasi toilet, terutama ketersediaan air bersih yang belum memadai untuk kebutuhan wudu dan keperluan lainnya.
Distribusi Logistik dan Layanan Kesehatan Minim
Selain fasilitas fisik, Selly juga menemukan persoalan distribusi logistik. Beberapa jemaah dilaporkan telantar di dalam tenda tanpa mendapatkan asupan makanan selama berjam-jam. "Ada beberapa jemaah yang sudah 9 jam berada di dalam tenda tidak mendapatkan fasilitas makan. Akhirnya para lansia drop. Tentu saja ini menjadi perhatian dari DPR," kata Selly. Ia menambahkan bahwa fasilitas kesehatan untuk menangani jemaah yang sakit juga sangat minim.
Usulan Tanazul untuk Jemaah Berisiko
Sebagai evaluasi ke depan, Selly meminta Kementerian Haji dan Umrah untuk melakukan perhitungan ulang dan mengambil kebijakan yang lebih realistis. Ia mengusulkan agar jemaah berisiko tidak dipaksakan bermalam (mabit) di Mina, melainkan dikembalikan ke hotel di Makkah melalui skema tanazul. "Kalau memang sekiranya ini menjadi masalah, kenapa jemaah tidak ditanazulkan saja sehingga tidak menjadi beban. Jangan sampai mereka terbebani, tidak mendapatkan makanan, sakit di dalam tenda, dan tidak mendapat fasilitas kesehatan yang layak," ungkapnya.
Apresiasi untuk Pelayanan di Makkah dan Madinah
Meskipun ada kendala di Mina, Selly tetap mengapresiasi peningkatan layanan ibadah haji 2026 secara keseluruhan, terutama selama jemaah berada di Makkah dan Madinah. "Secara keseluruhan, beberapa pelayanan di Makkah dan Madinah berjalan relatif lebih baik dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Tetapi memang kendalanya berada di Mina," ujar Selly.
Temuan Timwas Haji ini menjadi catatan penting bagi penyelenggaraan haji ke depan, agar pelayanan kepada jemaah dapat lebih optimal dan sesuai dengan standar yang layak.



