Warga Iran Derita Insomnia dan Kecemasan Akibat Perang yang Berkepanjangan
Warga Iran Derita Insomnia Akibat Perang Berkepanjangan

Dampak Perang yang Menghancurkan Tidur dan Perekonomian Warga Iran

Asap mengepul tebal masih terlihat di langit Teheran usai serangan udara yang mengguncang pusat kota pada awal April 2026. Bagi Setareh, seorang perempuan muda yang tinggal di ibu kota Iran, perang yang sebelumnya terasa jauh kini telah merambah ke kehidupannya secara langsung.

Kekacauan di Tempat Kerja dan Awal Masa Sulit

"Saya rasa itu bom," teriak Setareh kepada rekan-rekan kerjanya ketika gedung kantornya bergetar hebat disertai suara mengancam dari luar. Dengan panik, mereka semua berlarian meninggalkan meja kerja dan naik ke atap gedung. "Kami melihat asap mengepul ke langit, tapi kami tidak tahu tempat mana yang menjadi sasaran," kenangnya.

Situasi di kantor langsung berubah menjadi kekacauan total selama satu hingga dua jam. Orang-orang berteriak, menjerit, dan berlarian tanpa arah yang jelas. Pada hari yang sama, pimpinan perusahaan memutuskan untuk menghentikan bisnis dan memberhentikan seluruh staf, termasuk Setareh.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Insomnia dan Kecemasan yang Menggerogoti

Lebih dari satu bulan pemboman pada malam hari telah membuat Setareh tidak bisa tidur nyenyak. "Sejujurnya saya belum tidur selama beberapa malam secara berturut-turut," akunya dengan suara lelah. Dia mencoba merilekskan diri dengan meminum obat penghilang rasa sakit yang sangat kuat hanya agar bisa memejamkan mata sebentar.

Kecemasan tentang masa kini dan masa depan telah memengaruhi kondisi fisiknya secara signifikan. "Ketika saya memikirkan masa depan dan membayangkan kondisi tersebut, saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa," ujar Setareh. Yang dia maksud dengan "kondisi tersebut" adalah kesulitan ekonomi yang semakin parah dan ketakutan akan pertempuran jalanan antara pemerintah Iran dengan musuh-musuhnya.

Krisis Ekonomi yang Semakin Menggila

Konflik ini telah merenggut pekerjaan Setareh dan membuatnya kehabisan uang. Dia bukan satu-satunya yang mengalami nasib seperti ini. Jutaan warga Iran berada dalam posisi yang sama, bahkan sebelum perang dimulai. Ekonomi Iran sudah diyakini berada dalam krisis yang mendalam, dengan harga pangan yang naik 60% pada tahun 2025.

"Kami bahkan tidak mampu membeli makanan pokok. Uang di saku kami tidak sesuai dengan harga pasar," keluh Setareh. Sanksi internasional yang telah berlangsung bertahun-tahun terhadap Iran memperparah situasi. "Orang-orang yang saya kira mungkin memiliki uang untuk dipinjamkan juga tidak memiliki apa pun," tambahnya dengan nada putus asa.

Demonstrasi dan Represi yang Tak Kunjung Usai

Persoalan ekonomi memicu gelombang demonstrasi di berbagai wilayah Iran pada akhir 2025 dan awal 2026. Setareh meyakini situasi yang sama akan terjadi lagi. "Saya tidak tahu bagaimana gelombang pengangguran besar-besaran ini akan ditangani. Tidak ada sistem pendukung dan pemerintah tidak akan melakukan apa pun," ujarnya.

Setiap demonstrasi publik yang menunjukkan protes atau kritik terhadap pemerintah Iran menghadapi risiko besar. Pemerintah mengerahkan pasukan keamanan internal dan pendukung setianya untuk berpatroli di jalanan. Penangkapan, penyiksaan, dan bahkan eksekusi telah terjadi selama ini.

Kisah Pilu dari Dunia Medis

Tina, seorang perawat di rumah sakit di luar Teheran (nama samaran), mengungkapkan kekhawatirannya tentang situasi kekurangan obat-obatan. "Kekurangan belum meluas, tapi sudah mulai terjadi," katanya. Dia sangat mencemaskan kemungkinan perang mencapai rumah sakit dan mengganggu infrastruktur kesehatan.

Kenangan paling mengerikan yang menghantuinya adalah seorang perempuan muda hamil yang menjadi korban serangan udara. "Ketika mereka membawanya ke rumah sakit, baik ibu maupun janinnya tidak hidup. Perempuan muda itu dua bulan lagi akan melahirkan," cerita Tina dengan suara bergetar. Kisah ini semakin menyentuh karena mengingatkannya pada cerita ibunya yang mengandungnya selama perang Iran-Irak tahun 1980-an.

Luka Fisik dan Trauma Psikologis

Behnam (nama samaran), seorang demonstran yang ditahan, masih menyimpan pecahan logam di tubuhnya setelah ditembak selama protes terakhir. "Mereka menyergap kami di salah satu gang yang menuju ke alun-alun. Mereka menembakkan peluru dan gas air mata," kenangnya.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

Trauma yang dialaminya membuatnya menyimpan persediaan antibiotik dan obat penghilang rasa sakit di apartemennya untuk mengantisipasi kekerasan jalanan lagi. "Begitu Anda melihat betapa mudahnya hidup Anda terancam, hidup Anda tidak lagi memiliki nilai yang sama bagi Anda," ujar Behnam tentang pengalamannya.

Harapan di Tengah Keputusasaan

Meskipun berada dalam situasi yang sangat sulit, Behnam masih menyimpan harapan. "Saya yakin hari itu akan tiba ketika kita bebas dan dapat melihat kembali penderitaan yang kami alami," katanya dengan keyakinan. Harapan serupa juga dimiliki oleh warga Iran dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari pemilik toko, pengemudi taksi, hingga pekerja sektor publik.

Satu bulan setelah Israel dan AS menyerang Iran, ancaman dari Donald Trump untuk membom Iran "hingga kembali ke zaman batu" ditanggapi dengan represi rezim yang semakin ketat. Bagi warga Iran seperti Setareh, Tina, dan Behnam, masa-masa penuh canda tawa masih terasa sangat jauh, tertutup oleh bayang-bayang perang, krisis ekonomi, dan ketakutan akan represi pemerintah.