AM Hendropriyono Kupas 5 Pitutur Nusantara untuk Pedoman Kehidupan Berbangsa
AM Hendropriyono Kupas 5 Pitutur Nusantara untuk Berbangsa

Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono mengupas lima pitutur Nusantara yang dinilainya dapat menjadi pedoman moral dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Menurutnya, makna filosofis dari pitutur tersebut tepat untuk menghadapi tantangan di zaman sekarang.

Dalam pemaparannya, Hendropriyono menekankan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam filsafat Nusantara bukan sekadar warisan budaya, melainkan sumber kebijaksanaan yang tetap relevan untuk menjawab persoalan kontemporer, mulai dari kepemimpinan, demokrasi, hingga tanggung jawab sosial.

Manunggaling Kawulo Gusti

Pitutur pertama yang disampaikan adalah Manunggaling Kawulo Gusti. Menurut Hendropriyono, ajaran tersebut mengajarkan keselarasan batin manusia dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa. Ia menjelaskan bahwa dalam filsafat Jawa, ajaran ini merupakan kesatuan batin antara manusia (kawulo) dengan Tuhan (Gusti). Bukan berarti manusia menjadi Tuhan, melainkan keadaan ketika hati, pikiran, ucapan, dan tindakan seseorang selaras dengan kehendak ilahi melalui pengendalian diri, kejujuran, kesadaran moral, dan ketulusan hidup.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Sangkan Paraning Dumadi

Pitutur kedua adalah Sangkan Paraning Dumadi. Hendropriyono mengatakan ajaran tersebut mengingatkan manusia untuk selalu memahami asal-usul dan tujuan hidupnya. Manusia berasal dari Tuhan dan pada akhirnya akan kembali kepada-Nya. Karena itu, kehidupan bukan sekadar perjalanan biologis maupun sosial, melainkan perjalanan moral dan spiritual yang menuntut pertanggungjawaban atas setiap pikiran, perkataan, dan perbuatan. Ia menilai pemahaman ini sangat penting, terutama ketika seseorang menghadapi dilema moral. Kebijaksanaan lahir dari keberanian mengambil keputusan dengan hati nurani yang bersih, tanpa iri hati, kebencian, dan pamrih pribadi.

Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa

Pitutur ketiga adalah Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa. Menurut Hendropriyono, semboyan ini bukan sekadar slogan persatuan, melainkan landasan filosofis bangsa Indonesia. Keberagaman suku, agama, ras, bahasa, dan adat istiadat tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan. Sebaliknya, perbedaan harus dipandang sebagai unsur yang saling melengkapi dalam membangun harmoni kehidupan bersama. Indonesia menjadi kuat bukan karena seluruh rakyatnya sama, tetapi karena mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.

Gatoloco dan Ajining Diri Saka Lathi

Pitutur keempat memadukan nilai Gatoloco dan Ajining Diri Saka Lathi. Gatoloco dimaknai sebagai simbol keberanian intelektual untuk mencari kebenaran, sedangkan Ajining Diri Saka Lathi merupakan pengingat etis agar pencarian kebenaran disampaikan dengan tutur kata yang bermartabat. Hendropriyono menjelaskan bahwa Gatoloco mengajarkan keberanian berpikir kritis dan mempertanyakan kemapanan, sementara Ajining Diri Saka Lathi mengajarkan pentingnya etika dalam menyampaikan pendapat. Nilai ini sangat relevan di tengah maraknya hoaks, fitnah, ujaran kebencian, dan polemik di media sosial. Kebebasan berbicara harus disertai tanggung jawab moral, karena martabat seseorang diukur dari cara ia menggunakan kata-katanya.

Memayu Hayuning Bawono

Pitutur kelima adalah Memayu Hayuning Bawono, yang dimaknai sebagai kewajiban manusia untuk menjaga keselamatan, keharmonisan, dan keseimbangan kehidupan. Hendropriyono menjelaskan bahwa manusia tidak hidup untuk dirinya sendiri, melainkan merupakan bagian dari tatanan besar yang mencakup hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, alam semesta, dan generasi mendatang. Setiap tindakan harus membawa manfaat, mengurangi penderitaan, mencegah kerusakan, serta menciptakan ketenteraman dan kesejahteraan bagi masyarakat luas. Kehormatan seseorang tidak diukur dari seberapa banyak yang ia miliki, melainkan dari seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada lingkungannya.

Hendropriyono mengingatkan para pemimpin untuk menggunakan kekuasaan guna mengayomi rakyat, bukan memperkaya diri sendiri. Keadilan sosial bukan sekadar pembagian kekayaan, melainkan upaya berkelanjutan menciptakan kehidupan yang lebih baik dan bermartabat bagi seluruh rakyat. Ia menutup dengan filosofi Jawa: "Urip iku migunani tumraping liyan" (hidup itu berguna bagi sesama).

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga