Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menghadiri peringatan Hari Teh Internasional yang bertajuk 'Tea for Harmony, Shared Beauty' yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Republik Rakyat China. Acara tersebut berlangsung di Discovery SCBD Hotel, Jakarta, dan menampilkan berbagai pertunjukan budaya serta pengalaman warisan budaya takbenda.
Rangkaian Acara
Kegiatan ini mencakup demonstrasi seni teh China, pertunjukan budaya, pameran teh Indonesia dan China, serta pertunjukan robotik yang memadukan teknologi dan budaya. Acara ini menjadi wadah diplomasi budaya yang mempertemukan tradisi, seni, dan semangat persahabatan antarbangsa melalui budaya teh.
Sambutan Menteri Kebudayaan
Dalam sambutannya, Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada Kedutaan Besar Republik Rakyat China atas penyelenggaraan acara tersebut. Ia menilai acara ini mampu memperkuat pertukaran budaya sekaligus mempererat hubungan masyarakat kedua negara. Menurutnya, teh yang berasal dari China kini telah berkembang menjadi bahasa budaya universal yang melampaui batas negara, generasi, dan latar belakang masyarakat.
Tajuk 'Tea for Harmony' disebut sebagai pengingat bahwa keberagaman perlu dipandang sebagai kekuatan untuk mempererat kemanusiaan bersama. "Teh yang sederhana namun penuh makna dapat menjadi jembatan antarperadaban. Budaya memiliki kekuatan untuk membangun perdamaian, memperkuat kerja sama internasional, dan menciptakan ruang dialog yang saling menghormati," ujar Fadli dalam keterangan tertulis pada Kamis (21/5/2026).
Warisan Budaya Takbenda
Fadli juga mengapresiasi keberhasilan China dalam mendaftarkan Traditional Chinese Tea Processing Techniques and Associated Social Practices ke dalam Daftar Warisan Budaya Takbenda UNESCO pada tahun 2022. Menurutnya, hal ini menjadi bentuk komitmen dalam menjaga warisan budaya hidup. Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Indonesia juga memiliki tradisi teh yang kaya sebagai bagian dari sejarah panjang Nusantara sebagai salah satu wilayah penghasil teh penting di dunia. Budaya teh Indonesia terus berkembang, mulai dari praktik tradisional di berbagai daerah hingga budaya minum teh yang kini semakin dekat dengan generasi muda.
Indonesia, sebagai negara mega diversity di bidang kebudayaan, saat ini memiliki 16 warisan budaya takbenda yang telah diinskripsikan UNESCO, di antaranya wayang, batik, jamu, angklung, dan tari saman.
Hubungan Budaya Indonesia-China
Fadli menjelaskan bahwa hubungan budaya Indonesia dan China telah berlangsung selama berabad-abad melalui jalur perdagangan, migrasi, dan pertukaran budaya. Hubungan itu memberi pengaruh besar terhadap perkembangan seni dan tradisi di Indonesia. Pengaruh tersebut dapat dilihat pada motif batik pesisir, perkembangan wayang kulit, hingga kesamaan artistik antara Opera Peking dengan pertunjukan tradisional Indonesia. Selain itu, budaya jamu Indonesia juga memiliki titik temu dengan tradisi teh dan pengobatan tradisional China, yang sama-sama berakar pada pengetahuan herbal, kesehatan preventif, dan praktik berbasis komunitas.
"Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa budaya tumbuh melalui dialog, adaptasi, dan saling menghormati. Indonesia menyambut semakin eratnya kerja sama budaya dengan China melalui kolaborasi seni, pelestarian warisan budaya, museum, industri kreatif, pendidikan, hingga pertukaran generasi muda," tegasnya.
Pesan Duta Besar China
Duta Besar Republik Rakyat China untuk Indonesia, Wang Lutong, menyampaikan bahwa teh sejak lama menjadi medium peradaban dan pembawa pesan perdamaian lintas negara. Menurutnya, budaya teh mengandung filosofi keseimbangan antara manusia dan alam, sekaligus mencerminkan nilai inklusivitas dan kebersamaan antarbangsa. "Dalam upacara minum teh, setiap orang menikmati teh yang sama dan disajikan dengan penuh penghormatan. Teh mengajarkan harmoni, saling berbagi manfaat, dan mempererat koneksi antarbangsa," ujar Wang Lutong.
Pandangan Ketua DPD RI
Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamudin, mengatakan bahwa budaya teh mengandung makna persahabatan dan pentingnya dialog di tengah dinamika global saat ini. Ia menilai hubungan antarnegara harus dibangun melalui kerja sama yang dilandasi rasa saling percaya dan penghormatan. "Persahabatan tidak berarti keseragaman, melainkan harmoni dalam keberagaman. Dari situlah keindahan teh hadir sebagai instrumen diplomasi budaya yang mempererat hubungan antarbangsa," tutur Sultan.
Penutup
Menutup sambutannya, Fadli menegaskan bahwa Indonesia berkomitmen menjaga warisan budaya hidup sekaligus memperkuat kerja sama budaya internasional sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan dan dialog antarperadaban. "Semoga persahabatan Indonesia dan China terus berkembang demi perdamaian, kemakmuran, dan kerja sama budaya yang semakin erat," pungkasnya.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Menteri Transmigrasi RI M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dan para duta besar negara sahabat. Hadir pula mendampingi Menteri Kebudayaan, Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti.



