Presiden Ketujuh RI, Joko Widodo (Jokowi), akhirnya angkat bicara terkait kontroversi ritual menginjak kepala kerbau saat menerima gelar 'Baginda Pemuka Bangsa' di Lampung. Dalam pernyataannya di Solo pada Selasa (7/7), Jokowi menegaskan bahwa prosesi tersebut merupakan tradisi masyarakat Lampung yang telah dilakukan secara turun-temurun dan tidak bermuatan politik.
Penjelasan Jokowi tentang Ritual Adat
“Itu bentuk penghormatan dari Istana Kedatun Kerajaan Lampung. Dan saya merasa terhormat diberikan penghargaan. Dan jangan semua hal ditarik ke ranah politik, sering enggak sambung,” ujar Jokowi. Ia juga membantah anggapan bahwa kepala kerbau dalam upacara tersebut disamakan dengan kepala banteng, simbol Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Menurutnya, upacara ini adalah tradisi masyarakat adat yang harus dilestarikan.
“Itu ritual adat, sekali lagi itu ritual adat yang sudah, tidak sekali dua kali. Sudah ratusan kali dilakukan. Kita harus terus menghargai adat istiadat, terus menghargai kearifan lokal, terus menghargai kebudayaan budaya kita. Karena budaya kita ini sangat beragam sekali,” kata dia.
Kronologi Pemberian Gelar dan Kontroversi
Sebelumnya, Jokowi menerima gelar 'Baginda Pemuka Bangsa' dalam prosesi adat di Kedatun Keagungan, Jalan Sultan Haji, Kota Bandar Lampung, pada Sabtu (27/6). Dalam prosesi tersebut, Jokowi menginjak kepala kerbau yang diletakkan di atas karpet merah. Momen ini kemudian menuai respons beragam dari masyarakat.
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, menilai ritual tersebut secara konotatif berkaitan erat dengan PDIP. “Kepala kerbau yang diinjak Pak Jokowi, menjelaskan bahwa dirinya mengapresiasi nilai-nilai budaya atau adat yang ada di Lampung. Sekaligus respect terhadap penghargaan yang diberikan kepadanya,” kata Agung saat dihubungi pada Senin (29/6). Namun, ia juga menyebut bahwa ritual itu secara tidak langsung bisa diartikan sebagai pesan politik. “Dan ketika kepala kerbau diinjak, susah untuk tidak mengasosiasikan bahwa beliau siap bertarung dan mengalahkan PDIP di Lampung,” tambahnya.
Tanggapan dari PSI dan Budayawan
Sementara itu, Ketua DPP PSI, Bestari Barus, memastikan bahwa ritual tersebut bukan atas kemauan Jokowi, melainkan inisiatif masyarakat adat Lampung sebagai bentuk penghargaan atas kontribusinya selama menjadi presiden. “Ritual itu bukan Pak Jokowi buat. Pak Jokowi hanya sebagai orang yang diberikan gelar tersebut,” kata Bestari saat dihubungi pada Senin (29/6). Ia juga menambahkan bahwa ritual serupa pernah diberikan kepada mantan presiden sebelumnya.
Budayawan Lampung pun angkat bicara menjelaskan makna sebenarnya dari prosesi injak kepala kerbau. Menurut mereka, tradisi ini merupakan simbol penghormatan tertinggi kepada seseorang yang dianggap berjasa, bukan sekadar ritual politik.
Dampak dan Diskusi Publik
Kontroversi ini memicu perdebatan di media sosial dan ruang publik. Sebagian masyarakat menganggap ritual tersebut tidak pantas dilakukan oleh seorang presiden, sementara yang lain membela sebagai bagian dari kekayaan budaya. Jokowi sendiri menegaskan bahwa semua pihak harus menghargai kearifan lokal dan tidak perlu mempolitisasi setiap tradisi adat.



