detikcom berkesempatan mengunjungi Tlemcen, salah satu kota di Aljazair yang terletak di dataran tinggi bagian barat laut negara tersebut. Kunjungan ini dilakukan dalam rangkaian acara 25th International Tourism and Travel Fair atau Salon International du Tourisme et des Voyages (SITEV) pada Jumat (15/5/2026) waktu setempat. Tlemcen dikenal sebagai 'Mutiara Maghreb' karena arsitektur Islam-Andalusia yang megah serta perannya sebagai pusat budaya dan intelektual di Afrika Utara.
Perjalanan dimulai pada pukul 09.00 waktu setempat dari pusat Kota Oran menggunakan bus bersama puluhan jurnalis dari berbagai negara. Perjalanan menempuh waktu lebih dari tiga jam karena harus 'membelah' sabana yang membentang luas. Rombongan melewati jalan tol Timur-Barat (East-West Highway), sebuah jalur bebas hambatan tanpa tol sepanjang kurang lebih 1.500 km yang membentang dari perbatasan Tunisia hingga Maroko. Lalu lintas di jalanan ini tampak lengang, dengan pemandangan sabana di kiri kanan, sesekali terlihat pemukiman kecil penduduk setempat.
Tiba di Tlemcen dan Sambutan Wali Kota
Perjalanan berlabuh di kantor pemerintahan Kota Tlemcen pada pukul 12.30 waktu setempat. Matahari tampak lebih terang, namun cuacanya sejuk dengan hembusan angin kencang. Jalanan di pusat kota sepi karena Jumat dan Sabtu merupakan akhir pekan di Aljazair. Rombongan disambut langsung oleh Wali Kota Tlemcen, Youcef Bechlaoui. Dalam sambutannya, ia menjelaskan julukan 'Mutiara Maghreb' yang disematkan pada kota ini karena arsitektur Islam-Andalusia yang megah serta perannya sebagai pusat budaya dan intelektual di Afrika Utara. Kota ini menyimpan sekitar 70 persen dari seluruh warisan sejarah dan arsitektur Islam Aljazair.
Sejarah Tlemcen dari Masa Romawi hingga Perang
Pada zaman kekaisaran Romawi, Tlemcen dikenal dengan nama Pomaria. Nama ini kemudian berubah menjadi Agadir, yang dalam bahasa Berber berarti dinding atau benteng yang melindungi kota. Menurut pemandu, ada tiga kota yang pernah menyandang nama Agadir, yaitu Tlemcen, kota Agadir di Maroko, dan Cádiz di Spanyol. Karena lokasinya yang sangat tinggi, Tlemcen menawarkan pemandangan panorama 360 derajat. Pada masa peperangan, tentara penjaga dapat melihat hingga radius lebih dari 25 kilometer, memantau seluruh hamparan lembah, dataran rendah, hingga perbatasan Maroko. Gerakan pasukan musuh yang mendekat dari kejauhan akan langsung terdeteksi.
Keajaiban Gua Beni Add
Perjalanan berlanjut ke Gua Beni Add yang berjarak sekitar 10 hingga 17 kilometer dari pusat kota Tlemcen. Gua ini merupakan salah satu keajaiban alam bawah tanah yang menggabungkan keindahan geologi purba dengan sejarah perjuangan kemerdekaan Aljazair. Formasi batuan kapur di dalam gua diperkirakan telah terbentuk selama 65.000 tahun. Gua ini memiliki panjang 700 meter dengan suhu berkisar 13 derajat Celcius, dan berada di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Menurut para ahli geologi, gua ini adalah gua terbesar kedua di dunia setelah yang ada di Meksiko.
Menelusuri Kastil Mansourah
Perjalanan dilanjutkan ke Mansourah Castle, peninggalan arkeologi arsitektur militer Islam abad pertengahan di Afrika Utara. Situs ini dibangun pada akhir abad ke-13, sekitar tahun 1299, oleh Sultan Marinid bernama Abu Yaqub Yusuf. Awalnya didirikan sebagai benteng militer raksasa untuk menampung pasukan selama pengepungan panjang terhadap Kota Tlemcen. Peninggalan paling terkenal adalah menara masjid yang menjulang tinggi hingga 38 meter. Kini, para pengunjung masih bisa menyaksikan sisa-sisa tembok pertahanan yang terbuat dari tanah padat, yang pada masa kejayaannya diperkuat oleh puluhan menara pengawas.
Desa El-eubad, Pusat Spiritual Sufisme
Perjalanan berakhir di Village of the El-eubad, sebuah desa kuno bersejarah sekitar 2 kilometer di tenggara Kota Tlemcen. Dalam sejarah panjang Afrika Utara, El-eubad dikenal sebagai pusat spiritual dan episentrum Sufisme di kawasan Maghreb. Di kompleks desa ini terdapat makam Sidi Boumediene atau Shu'ayb Abu Madyan, seorang ulama, pemikir, dan mistikus besar kelahiran Andalusia yang dijuluki 'Bapak Sufisme' di Afrika Utara. Pada tahun 1198 M, saat dalam perjalanan menuju Marrakech, Shu'ayb jatuh sakit dan wafat di pinggiran Tlemcen, lalu dimakamkan di lereng El-eubad. Selain itu, terdapat Masjid Sidi Boumediene dengan arsitektur Moor-Andalusia, gerbang utama setinggi 7 meter dengan mosaik keramik dan seni pahat plester, serta tangga batu onyx.



