Cucu Pendiri NU Temui Menag Bahas Kondisi Internal dan Harapan Rekonsiliasi
Jakarta - KH Abdussalam Shohib, yang akrab disapa Gus Salam, sebagai cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU), telah melakukan silaturahmi dengan Menteri Agama KH Nasaruddin Umar. Pertemuan ini berlangsung di Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta Pusat, pada Selasa (14/4/2026), dengan fokus utama pada pembahasan kondisi internal organisasi serta upaya rekonsiliasi menjelang Muktamar ke-35 NU.
Silaturahmi dan Diskusi Mendalam
Gus Salam menyatakan bahwa kunjungannya merupakan bagian dari tradisi silaturahmi sekaligus kesempatan untuk belajar dan berdiskusi dengan tokoh senior NU. "Saya ingin silaturrohim ke Pak Menteri, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, M.A. Beliau telah berkhidmat di NU sejak muda di daerahnya, hingga sekarang berkhidmat sebagai Rais PBNU," ujarnya. Ia menekankan pentingnya menghormati dan belajar dari sosok seperti Nasaruddin Umar, yang memiliki pengalaman panjang dalam organisasi dan khidmah sosial keagamaan.
Pertemuan yang berlangsung sekitar satu jam, dari pukul 12.00 hingga 13.00 WIB, menghasilkan diskusi intensif. Gus Salam mengungkapkan bahwa Menag menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap situasi PBNU saat ini. "Prof. Nasaruddin sebagaimana para sesepuh NU yang lain, merasakan keprihatinan yang mendalam atas situasi PBNU saat ini. Kita merasakannya belum pernah terjadi sepanjang berdirinya NU," kata Gus Salam.
Harapan Rekonsiliasi dan Muktamar Sehat
Dalam pertemuan tersebut, Menag Nasaruddin Umar mendorong adanya rekonsiliasi di internal NU. Ia meminta agar seluruh elemen organisasi dapat mengesampingkan perbedaan demi menjaga marwah dan wibawa NU. "Beliau meminta agar ada kesungguhan dari semuanya untuk merajut kembali kebersamaan demi mengembalikan marwah, wibawa dan khidmah perjuangan NU di tengah-tengah umat," ungkap Gus Salam.
Selain itu, Menag menyoroti pentingnya penyelenggaraan Muktamar NU yang sehat dan terbuka. Ia menekankan agar proses pemilihan kepemimpinan memberikan ruang seluas-luasnya bagi kader NU yang memiliki kapasitas dan kapabilitas. "Agar dibuka ruang seluas-luasnya bagi kader NU yang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk meraih kepercayaan Nahdliyyin, dipilih menjadi pimpinan PBNU selanjutnya oleh peserta muktamar," kata Gus Salam, menirukan pesan Menag. "Prof. Nasar juga berharap, pada muktamar nanti bisa terpilih pemimpin NU yang jujur, amanah, luwes dan berintegritas," tambahnya.
Permohonan Izin dan Restu
Gus Salam juga mengakui bahwa pertemuan ini memiliki kepentingan khusus. Ia meminta izin kepada Menag untuk bersilaturahmi dengan pengurus NU di daerah, yang sebagian merupakan aparatur sipil negara di lingkungan Kementerian Agama. "Ya betul. Saya minta izin Pak Menag untuk bisa bersilaturrohim dengan pimpinan PWNU dan PCNU yang sebagiannya ASN-Pejabat Kemenag," ujarnya.
Lebih lanjut, Gus Salam menyampaikan permohonan restu terkait langkahnya maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada muktamar mendatang. "Saya juga mohon pamit dan restu kepada Pak Nasar. Karena saya kan diminta oleh para Guru-Kiai saya dan diperintah berikhtiar untuk mendapatkan kepercayaan pengurus PW-PCNU sebagai calon Ketua Umum PBNU, mendatang," sambungnya. Ia mengungkapkan rasa syukur atas nasihat berharga yang diterima dari Menag sebagai sesepuh dan kader senior NU.
Agenda Lanjutan Silaturahmi
Usai pertemuan, Gus Salam menyatakan rencana untuk melanjutkan agenda silaturahmi ke sejumlah pengurus wilayah dan cabang NU di luar Pulau Jawa dalam waktu dekat. Langkah ini menunjukkan komitmennya dalam menjalin hubungan dan memperkuat jaringan di tingkat akar rumput organisasi.
Pertemuan antara cucu pendiri NU dan Menteri Agama ini menandai upaya serius dalam mengatasi tantangan internal NU, dengan harapan dapat menciptakan harmoni dan kesatuan menjelang muktamar yang akan datang. Diskusi yang terbuka dan konstruktif ini diharapkan menjadi fondasi bagi perbaikan kondisi organisasi ke depan.



