Pemerintah Jepang kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk memperkuat nilai tukar yen yang terus melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Dilansir dari Reuters, Kamis (7/5/2026), Jepang diperkirakan telah menggelontorkan hingga 5,01 triliun yen (sekitar Rp 565 triliun per kurs hari ini) guna menopang mata uangnya. Langkah tersebut dilakukan setelah yen sempat menyentuh level terendah dalam hampir dua tahun terhadap dollar AS. Data Bank of Japan (BOJ) menunjukkan adanya arus keluar dana bersih sebesar 4,51 triliun yen (sekitar Rp 500 triliun) di pasar uang.
Latar Belakang Intervensi
Pelemahan yen yang signifikan mendorong pemerintah Jepang untuk turun tangan secara langsung. Yen terus tertekan akibat perbedaan kebijakan moneter antara Jepang yang masih longgar dan Amerika Serikat yang agresif menaikkan suku bunga. Intervensi ini merupakan yang terbesar dalam beberapa bulan terakhir.
Dampak dan Reaksi Pasar
Pasar keuangan global bereaksi cepat terhadap langkah Jepang. Nilai tukar yen sempat menguat setelah pengumuman intervensi, meskipun investor masih mencermati efektivitas jangka panjang dari kebijakan ini. Analis memperkirakan Jepang akan terus melakukan intervensi jika tekanan terhadap yen masih tinggi.
- Jumlah intervensi mencapai 5,01 triliun yen.
- Yen menyentuh level terendah dalam dua tahun.
- Arus keluar dana bersih tercatat 4,51 triliun yen.
Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas ekonomi Jepang yang bergantung pada impor energi dan bahan baku. Dengan yen yang lebih kuat, biaya impor diharapkan dapat ditekan.



