Hampir 35% Pendatang ke Jakarta Tujuan Cari Kerja, Mayoritas di Sektor Informal
35% Pendatang ke Jakarta untuk Cari Kerja, Mayoritas Informal

Hampir 35% Pendatang ke Jakarta Bertujuan Mencari Pekerjaan, Mayoritas Keterampilan di Sektor Informal

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat bahwa hampir 35 persen pendatang yang masuk ke ibu kota, khususnya setelah libur Lebaran tahun lalu, memiliki tujuan utama untuk mencari pekerjaan. Data dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta mengungkapkan bahwa sebanyak 34,97 persen dari total pendatang datang dengan motivasi bekerja.

Profil Pendatang: Usia Produktif dan Pendidikan Rendah

Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto, menjelaskan bahwa faktor pencarian kerja diperkuat oleh dominasi usia produktif di antara pendatang. Sebanyak 77,84 persen pendatang berusia antara 15 hingga 64 tahun, yang termasuk dalam kategori usia produktif. Dari segi jenis kelamin, rasio menunjukkan bahwa untuk setiap 100 perempuan, terdapat 97 laki-laki.

Dalam hal pendidikan, mayoritas pendatang memiliki latar belakang pendidikan menengah ke bawah. Data menunjukkan bahwa 78,71 persen pendatang berpendidikan SMA atau sederajat ke bawah. Selain itu, sekitar 58,96 persen dari mereka diasumsikan berpenghasilan rendah, dengan keterampilan yang cenderung terfokus pada sektor informal.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Alasan Lain Pendatang ke Jakarta

Meskipun bekerja menjadi alasan utama, terdapat beberapa faktor lain yang mendorong kedatangan pendatang ke Jakarta. Berikut adalah persentase alasan lainnya berdasarkan data Dukcapil:

  • Keluarga: 32,58 persen
  • Pekerjaan (selain mencari kerja): 15,59 persen
  • Perumahan: 13,04 persen
  • Pendidikan: 3,49 persen
  • Kesehatan: 0,29 persen
  • Keamanan: 0,03 persen

Denny menambahkan bahwa kemudahan akses layanan publik di Jakarta, seperti transportasi, kesehatan, dan pendidikan, menjadi faktor pendukung utama yang membuat ibu kota tetap menjadi magnet bagi pendatang.

Tempat Tinggal dan Program Pembinaan

Terkait tempat tinggal, sekitar 21,05 persen pendatang tercatat tinggal di lingkungan RW yang kumuh, padat, atau berada di perbatasan Jakarta. Data ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk program pembinaan, termasuk pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta formalisasi sektor informal melalui bimbingan dari organisasi perangkat daerah terkait.

Saat ini, Dinas Dukcapil DKI Jakarta sedang melakukan pendataan terhadap pendatang melalui layanan jemput bola di berbagai wilayah Jakarta, yang akan berlangsung hingga 30 April 2026.

Trend Jumlah Pendatang dan Persiapan yang Lebih Matang

Berdasarkan data per 1 April 2026, tercatat sebanyak 1.776 pendatang baru yang masuk ke Jakarta, dengan komposisi 891 laki-laki (50,17 persen) dan 885 perempuan (49,83 persen). Namun, tren jangka panjang menunjukkan penurunan jumlah pendatang pasca-Lebaran sejak 2022:

  1. 2022: 27.478 orang
  2. 2023: 25.918 orang
  3. 2024: 16.207 orang
  4. 2025: 16.049 orang

Denny mengungkapkan bahwa dalam dua tahun terakhir, pendatang cenderung memiliki persiapan yang lebih matang sebelum datang ke Jakarta. Persiapan ini termasuk keterampilan kerja yang memadai, kepastian pekerjaan, dan jaminan tempat tinggal, yang menunjukkan perubahan pola migrasi ke arah yang lebih terencana.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga