Mastercard dan CrescentRating merilis Global Muslim Travel Index (GMTI) 2026, pemeringkatan tahunan yang mengukur destinasi ramah wisatawan Muslim di berbagai negara. Pada edisi ke-11 yang dirilis April 2026, GMTI mengevaluasi 150 destinasi yang mewakili lebih dari 98 persen kedatangan wisatawan Muslim dunia.
Metode Penilaian ACES dan Perluasan Aspek
GMTI 2026 menggunakan kerangka ACES (Access, Communications, Environment, and Services) untuk menilai ketersediaan layanan ramah Muslim. Tahun ini, penilaian diperluas dengan memasukkan kesiapan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), visibilitas digital, infrastruktur destinasi pintar, tingkat kepercayaan wisatawan, serta ketahanan destinasi di tengah kondisi global yang dinamis.
Menurut laporan GMTI 2026, Indonesia berhasil menempati peringkat ke-7 dunia dengan skor 75 dari 100. Peringkat ini naik dari tahun sebelumnya yang berada di posisi ke-9. Peningkatan ini didorong oleh perbaikan aksesibilitas, komunikasi, lingkungan, dan layanan ramah Muslim di berbagai destinasi Indonesia.
Peringkat 10 Besar Destinasi Ramah Muslim
Berikut 10 besar destinasi ramah Muslim versi GMTI 2026:
- 1. Malaysia (skor 88)
- 2. Arab Saudi (skor 86)
- 3. Uni Emirat Arab (skor 84)
- 4. Turki (skor 82)
- 5. Qatar (skor 80)
- 6. Maroko (skor 78)
- 7. Indonesia (skor 75)
- 8. Yordania (skor 73)
- 9. Oman (skor 72)
- 10. Singapura (skor 71)
Selain itu, GMTI 2026 juga mencatat beberapa destinasi non-Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) yang ramah Muslim, seperti Singapura (10), Thailand (12), dan Inggris (15).
Dampak bagi Pariwisata Indonesia
Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Baparekraf) Sandiaga Uno menyambut baik pencapaian ini. "Peringkat ini menunjukkan bahwa upaya pemerintah dalam mengembangkan wisata halal berbuah hasil. Kami akan terus meningkatkan layanan dan infrastruktur untuk menarik lebih banyak wisatawan Muslim," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta.
Menurut data Baparekraf, kunjungan wisatawan Muslim ke Indonesia pada 2025 mencapai 5,2 juta orang, meningkat 15 persen dari tahun sebelumnya. Kontribusi sektor pariwisata halal terhadap PDB nasional diperkirakan mencapai Rp 180 triliun pada 2026.
Peran Teknologi dan AI dalam Pariwisata Halal
GMTI 2026 menekankan pentingnya adopsi teknologi, termasuk AI, untuk meningkatkan pengalaman wisatawan Muslim. Destinasi yang menyediakan aplikasi pencari masjid, restoran halal, dan informasi arah kiblat mendapat nilai lebih. Indonesia telah mengembangkan aplikasi "Salam Travel" yang membantu wisatawan Muslim menemukan layanan ramah Muslim di berbagai kota.
"Integrasi AI dalam pariwisata halal menjadi tren global. Indonesia perlu mempercepat digitalisasi destinasi agar tetap kompetitif," kata CEO CrescentRating, Fazal Bahardeen, dalam laporan tersebut.



