Di balik deretan gedung pencakar langit yang menjulang dan gemerlap lampu kota Hong Kong, tersimpan kisah perjuangan ribuan warga Indonesia yang merantau jauh dari kampung halaman demi mengubah nasib. Bagi banyak pekerja migran Indonesia, Hong Kong bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Wilayah administratif khusus Tiongkok itu menjadi tempat menggantungkan harapan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, membiayai pendidikan anak, hingga mewujudkan berbagai impian yang selama ini sulit diraih.
Gaji yang relatif tinggi, peluang kerja yang terbuka, serta perlindungan ketenagakerjaan yang dinilai cukup baik membuat Hong Kong tetap menjadi salah satu tujuan utama pekerja migran Indonesia selama bertahun-tahun. Liputan6.com berkesempatan mengunjungi Hong Kong dalam rangka menghadiri agenda DFSK Global pada 17–19 Juni 2026. Di sela-sela rangkaian kegiatan tersebut, jurnalis menyempatkan diri menyusuri sejumlah sudut kota untuk melihat secara langsung situasi kehidupan perkotaan serta aktivitas warga di wilayah tersebut.
Suasana Kehidupan di East Tsim Sha Tsui
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah kawasan East Tsim Sha Tsui, salah satu wilayah padat di Hong Kong, tepatnya di Kowloon bagian tenggara. Begitu keluar dari stasiun Mass Transit Railway (MTR), suasana kota langsung terasa hidup. Bus tingkat, trem, taksi, hingga pejalan kaki berlalu-lalang memenuhi jalanan yang diapit gedung-gedung tinggi. Namun, di tengah hiruk-pikuk kota metropolitan tersebut, bahasa Indonesia justru terdengar cukup akrab di telinga.
Di sejumlah sudut jalan, taman kota, hingga area sekitar stasiun, terlihat kelompok-kelompok warga Indonesia yang sedang berkumpul. Sebagian tampak duduk bercengkerama bersama teman atau kerabat. Ada yang berbagi makanan, mengobrol santai hingga sekadar menikmati waktu luang setelah menjalani rutinitas kerja yang padat. Pemandangan serupa juga terlihat di dalam MTR dan pusat-pusat perbelanjaan. Tak sedikit warga Indonesia yang memanfaatkan hari libur untuk bepergian ke berbagai sudut kota atau bertemu dengan sesama perantau.
Kebetulan, kunjungan Liputan6.com bertepatan dengan libur Dragon Boat Festival. Momentum tersebut dimanfaatkan banyak pekerja migran Indonesia untuk berkumpul, dan melepas rindu dengan komunitas maupun keluarga yang tinggal di Hong Kong. Di tengah keramaian itu, Liputan6.com berkesempatan berbincang dengan sejumlah pekerja Indonesia yang telah lama bekerja di Hong Kong. Mereka datang dengan latar belakang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama.
Tawarkan Penghasilan Besar
Rima, pekerja migran asal Kendal, Jawa Tengah, mengaku memilih Hong Kong karena menawarkan penghasilan yang lebih baik dibandingkan pekerjaan yang tersedia di daerah asalnya. "Pertama karena gajinya lebih besar. Kedua, di sini tidak harus sarjana. Lulusan SMA atau SMP juga bisa selama dokumen dan perizinannya lengkap," ujar Rima kepada Liputan6.com. Perempuan yang mulai bekerja di Hong Kong sejak 2017 itu menilai proses pengurusan dokumen kerja relatif sederhana. Menurut dia, calon pekerja hanya perlu melengkapi dokumen dasar seperti KTP, kartu keluarga, dan paspor.
Meski demikian, bekerja jauh dari keluarga tetap memiliki tantangan tersendiri. Rima mengaku momen paling berat adalah ketika keluarga di kampung halaman mengalami musibah sementara dirinya tidak bisa langsung pulang. "Suka dukanya kalau di rumah ada musibah, kita tidak bisa langsung pulang. Tapi sukanya, kalau ada acara keluarga atau kebutuhan mendesak, kita bisa membantu dari sini," katanya. Beruntung, perkembangan teknologi membuat komunikasi dengan keluarga menjadi lebih mudah. "Kalau kangen keluarga sekarang bisa video call. Jadi masih bisa lihat kondisi keluarga walaupun jauh," ucapnya.
Bisa Tetap Terhubung dengan Keluarga
Cerita serupa disampaikan Tri, pekerja migran asal Jawa Tengah yang bekerja sebagai caregiver atau perawat lansia di Hong Kong. Sebelum bekerja di Hong Kong, Tri sempat merasakan bekerja di Singapura. Menurut dia, salah satu alasan memilih Hong Kong adalah aturan kerja yang dinilai lebih fleksibel, termasuk terkait penggunaan telepon genggam. "Kalau pengalaman saya dulu di Singapura lebih ketat dan tidak boleh pegang HP. Kalau mau menghubungi keluarga juga susah. Di Hong Kong diperbolehkan pegang HP, jadi lebih mudah komunikasi dengan keluarga," kata Tri.
Selain itu, ia menilai besaran gaji yang diterima cukup kompetitif dan mampu membantu memperbaiki kondisi keuangan keluarga. "Kalau dibandingkan dulu kerja di Indonesia, penghasilannya hanya cukup untuk makan dan transportasi. Bahkan kadang masih kurang. Untuk biaya pendidikan anak juga tidak mencukupi," ujarnya. Tri juga mengatakan proses pengurusan dokumen kerja kini semakin mudah selama data yang diberikan sesuai dan tidak dimanipulasi. Terkait hak pekerja, Tri mengaku mendapatkan hari libur dan fasilitas kesehatan sesuai ketentuan yang berlaku. Namun, saat memanfaatkan hari libur, ia tetap harus mengeluarkan biaya tambahan untuk kebutuhan makan dan transportasi selama berada di luar rumah majikan. "Soalnya libur dan kalau kita keluar ada kebutuhan buat makan dan transportasi," imbuhnya.
Belajar Mandiri di Negeri Orang
Tidak hanya pekerja migran, Hong Kong juga menjadi tempat menimba pengalaman bagi mahasiswa Indonesia yang menjalani program magang internasional. Salah satunya Angga, mahasiswa asal Bandung yang tengah menjalani program magang di Hong Kong SkyCity Marriott Hotel sebagai concierge. Ia mengaku memilih Hong Kong karena merupakan salah satu pusat pariwisata dunia yang menawarkan pengalaman kerja internasional sekaligus kesempatan mengembangkan kemampuan diri.
"Alasan saya pilih Hong Kong karena Hong Kong merupakah salah satu pusat pariwisata di dunia, juga untuk coba keluar dari zona nyaman saya di negara sendiri, menambah pengalaman, membangun kepercayaan diri dengan belajar meningkatkan skill komunikasi saya dengan bahasa asing, sekaligus sebagai batu loncatan untuk karir saya kedepannya saat sudah lulus," kata Angga. Dalam pekerjaannya, Angga bertugas membantu kebutuhan tamu hotel, mulai dari memberikan informasi destinasi wisata, mengatur transportasi kru maskapai penerbangan, hingga menangani barang bawaan tamu.
Bekerja di hotel yang berlokasi dekat Bandara Internasional Hong Kong membuatnya setiap hari bertemu tamu dari berbagai negara. "Jadi tamu di hotel ini tidak hanya penduduk lokal tapi tamu dari berbagai negara. Hal itu yang paling berkesan buat saya karna bisa bertemu dan berkomunikasi dengan penduduk dari berbagai negara," ujarnya. Meski demikian, tantangan tetap ada. Salah satu yang paling sering ia hadapi adalah kendala bahasa ketika harus berinteraksi dengan warga lokal yang lebih nyaman menggunakan bahasa Mandarin atau Kanton. "Tapi rekan kerja saya sangat peka dalam membantu saya menghadapi situasi itu," katanya. Untuk mengobati kerinduan terhadap keluarga di Indonesia, Angga rutin melakukan panggilan telepon sebelum atau sesudah bekerja. "Di hari libur juga saya kadang coba berkunjung ke tempat-tempat disini untuk meringankan tekanan pekerjaan saya, beberapa kali juga saya menemui teman teman kampus saya yang juga magang di Hong Kong ini," ujarnya.



