Dapur di kediaman Eko Saputra dan Lina sudah beraktivitas sejak pagi hari. Aroma khas ikan tenggiri memenuhi ruangan. Dari sudut rumah itulah, Eko membangun usaha bernama Pempek Raffael yang terus berkembang.
Pada Sabtu (6/6) pagi, Eko menyambut kedatangan tim detikcom yang berkunjung ke tempat usahanya di Cengkareng, Jakarta Barat. Rumah yang ditempati Eko sedang sibuk mengolah pempek pesanan pelanggan. Dua karyawannya tengah merebus adonan pempek.
Eko menceritakan bahwa usaha ini dirintis pada pertengahan tahun 2017. Kini, usahanya telah memiliki tujuh cabang yang tersebar di Jakarta Barat. Tidak ada yang menyangka bahwa usaha ini bermula dari teras rumah.
“Kalau awal buka itu pertama merintis di tahun 2017 bulan Mei tanggal 27, awal bulan puasa sih buka di kaki lima, awal mula usaha dijalankan oleh ibu di teras rumah,” kata Eko.
Sejak awal berjualan, Eko menyebut Pempek Raffael sudah banyak diminati pembeli. Melihat adanya peluang, Eko pun meneruskan usaha ini. “Awal dari rumah, dari rumah karena kan dulu dipegang sama ibu terus saya berhenti kerja. Akhirnya bilang sama ibu, udahlah kita aja, saya saja yang teruskan jualan. Nah, ini saya coba jual di kaki lima. Ternyata di kaki lima ada prospek, prospeknya besar. Jadi saya ambil alih sampai sekarang berjalan,” tutur Eko.
Warung pertama Pempek Raffael berada di Jalan Haji Lengkong, dekat rumah sakit di Cengkareng. Peminat pempek, ujarnya, sangat banyak hingga pada tahun kedua berjualan dirinya membuka cabang kedua di kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat.
“Dulu kan warung di rumah itu lumayan ramai, akhirnya saya tutup yang di rumah saya tarik customer-nya ke warung. Pas dicoba, oh, ternyata di situ peminatnya lebih banyak,” kenang Eko.
“Alhamdulillah, alhamdulillah buka awal pertama bulan puasa itu perkenalan, alhamdulillah banyak yang cocok, jadi langganan. Repeat order. Dua tahun buka pertama, tahun ke-2 itu aku baru buka cabang di pujasera depan mal Daan Mogot. Itu sebelum COVID, 2019,” imbuh dia.
Menu Andalan dan Layanan
Pempek Raffael mempunyai menu andalan seperti pempek kapal selam, pempek telur kecil, pempek adaan, pempek kulit, pempek lenjer, pempek keriting hingga tekwan. Selain berjualan secara offline di tujuh cabang, kata Eko, usahanya ini juga melayani pesanan untuk acara kantor, pernikahan, hari raya Idul Fitri maupun Idul Adha. Ketujuh cabang usaha ini berada di Haji Lengkong, pusat kuliner Daan Mogot, Jalan Jimbaran, Jelambar, belakang gedung CNI, Kosambi, dan Taman Kota.
Omzet Ratusan Juta Per Bulan
Total sudah sembilan tahun lebih Eko menjalankan usaha pempek. Per bulan, UMKM ini bisa meraup omzet ratusan juta rupiah. “Omzet sebulan, kotornya itu sekitar 110-140 juta per bulan,” tutur Eko.
Dari usahanya juga, Eko saat ini bisa mempekerjakan sembilan orang dan membeli kendaraan untuk operasional. Terus berkembang, Pempek Raffael menargetkan memiliki outlet besar. Eko optimistis hal itu bisa tercapai.
“Saya berharap usaha ini tetap berkembang ya. Saya punya target pengennya semakin besar. Saya pengen tempat outlet yang lebih besar lagi buat sentralnya Pempek Raffael. Ini lagi proses, on progress aja gitu kan sambil berjalan. Kalau udah ada dananya udah siap ya insyaallah mungkin kita nanti bikin gebrakan yang lebih besar lagi,” kata Eko.
Manfaatkan Rumah BUMN BRI untuk Berkembang
Pagi itu, Eko juga ditemani Lina yang ikut menjalankan Pempek Raffael. Lina menceritakan UMKM ini menjadi anggota Rumah BUMN BRI pada tahun 2023. Rumah BUMN BRI membantu UMKM untuk naik kelas dengan memberikan pelatihan-pelatihan, akses permodalan hingga pasar. Lina menyebut usaha ini mengenal Rumah BUMN BRI lewat jejaring pertemanan.
“Itu awalnya dari sesama teman UMKM suka saling berbagi info kalau Rumah BUMN tuh nerima UMKM, jadi kita mulai daftar. Habis itu mulai, alhamdulillah, diajak bazar, diajak pelatihan sama BRI. Daftarnya sekitar akhir tahun 2023,” kata Lina.
Salah satu pelatihan yang membuat usahanya berkembang yakni pengelolaan keuangan hingga digital marketing. “Untuk pelatihan yang pernah saya ikuti mengelola keuangan, platform e-commerce, merintis usaha, efisiensi digital marketing,” ujar Lina.
Menurut Lina, UMKM terkadang kesulitan mengatur keuangan dalam artian uang belanja dan pribadi kerap tercampur-campur. Pelatihan dari BRI membantu usahanya berkembang.
“Biasanya kalau UMKM itu kan dicampur ya antara uang-uang belanja produksinya dan yang pribadi gitu ya, itu kan masih kecampur-campur. Nah, itu kemarin diajarin mengelolanya, me-manage-nya dengan membuat laporan keuangan,” tutur dia.
Lina menjelaskan, UMKM terkadang kesulitan untuk masuk e-commerce. Rumah BUMN BRI, katanya, membantu dengan mendatangkan langsung rekanan untuk memberi pemahaman bagaimana agar bisa lolos ke platform tersebut.
“Biasa kan kalau kayak gitu kan susah ya kalau kita mau daftar sendiri ke platform e-commerce. Kadang-kadang mereka mendatangkan si partnernya yang bisa ngejelasin kita gimana sih caranya daftar jadi merchant yang benar. Jadi kita udah mengetahui nih kalau untuk berjualan online,” tutur Lina.
Sementara itu, Koordinator Rumah BUMN Jakarta, Jajang Rohmana, kepada detikcom, menyebutkan Rumah BUMN BRI di Jakarta mempunyai komitmen agar UMKM lebih dikenal masyarakat dan memperluas pasar lewat program-program yang diberikan. Pelatihan yang dihadirkan pun bertujuan untuk membantu UMKM naik kelas.
“Di Rumah BUMN, para pelaku usaha atau UMKM mendapatkan pelatihan untuk mempertajam skill kewirausahaan, pendampingan digital, hingga akses permodalan dan jejaring pasar,” ujar Jajang.
“Setiap senyuman dari pelaku UMKM yang berhasil naik kelas adalah energi bagi kami,” ujarnya.



