Iqbaal Ramadhan Angkat Isu Budaya Kerja Eksploitatif dalam Film Terbaru
Aktor berbakat Iqbaal Ramadhan secara terbuka mengkritik budaya kerja yang eksploitatif dan abusif yang sering terjadi di Indonesia melalui film terbarunya berjudul Monster Pabrik Rambut. Film ini disutradarai oleh Edwin, dan Iqbaal tidak hanya berperan sebagai aktor tetapi juga mengambil posisi penting sebagai eksekutif produser.
Alasan Pribadi di Balik Keterlibatan
Dalam sebuah wawancara eksklusif di Jakarta Selatan pada Senin, 20 April 2026, Iqbaal mengungkapkan bahwa tema film ini sangat dekat dengan pengalaman pribadinya. "Ketika diceritakan tentang tema filmnya dan pesan yang ingin disampaikan, saya merasa memiliki kedekatan yang sangat besar dengan sistem pekerjaan yang eksploitatif dan juga abusif," kata Iqbaal dengan penuh semangat.
Ia menjelaskan bahwa ketertarikannya untuk menjadi eksekutif produser bukan hanya sekadar ambisi karir, tetapi didorong oleh keinginan untuk menyuarakan isu sosial yang selama ini ia rasakan langsung.
Pengalaman Langsung di Industri Hiburan
Iqbaal mengaku bahwa budaya kerja eksploitatif dan abusif tersebut bukanlah hal asing baginya. Sejak memulai karier di industri hiburan pada usia yang sangat muda, yaitu 9 tahun, ia telah mengalami berbagai bentuk eksploitasi dalam dunia kerja.
"Saya sudah merasakan sendiri bagaimana sistem ini berjalan, dan itu membuat saya semakin terdorong untuk terlibat dalam proyek film ini," tambahnya. Pengalaman ini memberikannya perspektif unik yang ia bawa ke dalam produksi Monster Pabrik Rambut.
Film sebagai Media Kritik Sosial
Melalui film ini, Iqbaal dan tim berharap dapat mengangkat kesadaran publik tentang praktik kerja yang tidak sehat di berbagai sektor, termasuk industri hiburan. Monster Pabrik Rambut diharapkan tidak hanya menjadi tontonan menghibur, tetapi juga menjadi cermin bagi masyarakat untuk merefleksikan kondisi kerja di Indonesia.
Dengan menggabungkan elemen fiksi dan kritik sosial, film ini bertujuan untuk memicu diskusi yang lebih luas tentang perlunya reformasi dalam budaya kerja nasional.



