KOMPAS.com - Kebijakan reboisasi dan penanaman pohon yang diterapkan Jepang 70 tahun lalu kini membawa dampak tak terduga. Warga Jepang saat ini mengalami alergi massal akibat serbuk bunga yang melimpah. Fenomena ini bermula dari video viral yang beredar pada Februari lalu, yang menunjukkan gelombang seperti asap berhembus dari hutan pinus. Namun, gelombang tersebut bukanlah asap, melainkan serbuk sari.
Demam Serbuk Sari Menjadi Krisis Nasional
Setiap musim semi di Jepang, orang-orang dari segala usia menggunakan masker di jalanan kota. Demam serbuk sari, yang juga dikenal sebagai rinitis alergi, kini telah menjadi krisis nasional. Sekitar 43 persen penduduk Jepang mengalami gejala sedang hingga parah akibat paparan serbuk sari.
Kondisi ini dipicu oleh kebijakan reboisasi besar-besaran setelah Perang Dunia II untuk memulihkan hutan. Pohon-pohon yang ditanam, terutama sugi (cedar Jepang) dan hinoki (cemara Jepang), kini menjadi sumber utama serbuk sari yang menyebar luas setiap musim semi.
Para ahli kesehatan menyarankan warga untuk menggunakan masker, kacamata, dan menghindari aktivitas luar ruangan saat kadar serbuk sari tinggi. Pemerintah Jepang juga terus berupaya mencari solusi jangka panjang, termasuk mengganti pohon dengan jenis yang lebih rendah produksi serbuk sarinya.



