Viral MBG Siswa TK di Lembata NTT Berulat, Kepala SPPG Minta Cek Lab
Viral MBG Siswa TK Lembata Berulat, Kepala SPPG Minta Cek Lab

Viral Menu Makan Bergizi Gratis Siswa TK di Lembata NTT Diduga Berisi Ulat

Sebuah video yang menunjukkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa Taman Kanak-kanak (TK) di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), diduga berisi ulat telah menjadi viral di media sosial. Insiden ini memicu kekhawatiran publik terhadap kualitas makanan yang disalurkan melalui program pemerintah tersebut.

Konten Video yang Menghebohkan

Dalam video yang beredar luas, terlihat beberapa ulat tampak meliuk pada potongan daging ayam yang tersaji di dalam ompreng atau wadah makanan MBG. Video tersebut direkam di TK Negeri 3 Nubatukan, Lembata. Seseorang dalam video menyuarakan kekhawatirannya dengan mengatakan, "Ini ulat ini, ada banyak di dalam daging. Ini ulat semua. MBG hari ini daging ayam ungkep kah apa ini?" Ungkapan tersebut semakin memperkuat dugaan adanya kontaminasi pada makanan yang seharusnya bergizi bagi anak-anak.

Tanggapan Resmi dari Kepala SPPG

Menanggapi viralnya video tersebut, Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 01 Lamahora, Hanny Chandra, memberikan klarifikasi. Hanny menyatakan bahwa total menu MBG yang didistribusikan pada hari itu mencapai 3.200 ompreng. Dia dengan tegas membantah bahwa makanan yang dibagikan oleh dapur MBG tersebut berisi ulat.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

"Ulat semua itu tidak benar. Hanya satu ompreng, tapi kami juga tidak temukan ulat. Dan guru bilang ulatnya masuk ke dalam daging," kata Hanny saat dikonfirmasi pada Jumat, 17 April 2026. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pihaknya menyangkal adanya kontaminasi massal, meski mengakui adanya laporan dari guru mengenai satu wadah yang diduga bermasalah.

Permintaan Pemeriksaan Laboratorium

Hanny mengaku telah mendapatkan teguran dari Bupati Lembata, Kanis Tuaq, setelah video menu MBG berulat itu viral. Namun, dia menekankan bahwa semua tuduhan perlu dibuktikan secara ilmiah sebelum diambil kesimpulan. "Kita omong harus pakai bukti. Kami akan memberikan penjelasan. Kami minta Dinas Kesehatan (Dinkes), isi ayam yang kemarin busuk itu untuk dicek di laboratorium," pungkasnya.

Permintaan ini bertujuan untuk memastikan keamanan pangan dan mengklarifikasi apakah benar terjadi kontaminasi ulat pada daging ayam yang disalurkan. Pemeriksaan laboratorium diharapkan dapat memberikan jawaban yang objektif dan transparan kepada masyarakat.

Dampak dan Implikasi

Insiden ini menyoroti pentingnya pengawasan ketat dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), terutama yang ditujukan untuk anak-anak usia dini. Beberapa poin kritis yang muncul dari kasus ini antara lain:

  • Kualitas Bahan Makanan: Perlunya pengecekan rutin terhadap kesegaran dan kebersihan bahan baku yang digunakan.
  • Proses Distribusi: Pentingnya memastikan makanan tetap higienis selama pengemasan dan pengiriman ke sekolah.
  • Respons Cepat: Kesiapan pihak berwenang dalam menangani keluhan dan melakukan investigasi menyeluruh.

Kasus viral MBG berulat di Lembata ini juga mengingatkan akan insiden serupa di daerah lain, seperti yang terjadi di Cilegon di mana puluhan siswa dilarikan ke puskesmas diduga karena keracunan MBG. Hal ini menunjukkan bahwa masalah keamanan pangan dalam program bantuan pemerintah perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak terkait.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga