KontraS Duga Penyerangan Andrie Yunus Bagian dari Operasi Intelijen Sistematis
KontraS: Penyerangan Andrie Yunus Operasi Intelijen Sistematis

KontraS Duga Penyerangan Andrie Yunus Merupakan Operasi Intelijen Sistematis

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menyatakan kecurigaan bahwa kasus penyiraman air keras terhadap aktivisnya, Andrie Yunus, adalah bagian dari operasi intelijen yang dilakukan secara sistematis dan terorganisir. Dugaan ini muncul sejak awal insiden, dengan pola yang menunjukkan keterlibatan banyak pihak dalam aksi tersebut.

Pola Terorganisir dan Investigasi Awal

Dalam rapat dengar pendapat di Komisi III DPR, Jakarta, Koordinator Badan Pekerja KontraS, Dimas Bagus Arya, mengungkapkan bahwa investigasi awal telah menemukan indikasi kuat adanya operasi intelijen. "Kami dari awal sudah menduga bahwa ini adalah rangkaian dari operasi intelijen," tegas Dimas pada Selasa (31/3/2026).

Berdasarkan penelusuran rekaman CCTV dan pengumpulan alat bukti menggunakan metode intelijen terbuka, tim advokasi KontraS mengidentifikasi sedikitnya 16 orang yang diduga terlibat dalam penyerangan ini. "Kami menemukan dari semua rangkaian atau konstruksi atau rekonstruksi hasil penelusuran CCTV, pencarian alat bukti menggunakan sejumlah perangkat intelijen terbuka, ditemukan seenggaknya 16 orang, belum termasuk aktor intelektualnya," jelas Dimas.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kode 'Sadang' dan Rangkaian Tindakan

Lebih lanjut, KontraS mengungkap bahwa operasi ini memiliki sandi khusus, yaitu 'Sadang', yang tercatat dalam laporan internal mereka. Dimas menambahkan bahwa operasi tersebut diduga diawali dengan tahap perencanaan berupa penguntitan dan pemantauan terhadap Andrie Yunus oleh orang-orang tak dikenal.

"Operasi sadang ini bermula dari tindakan perencanaan upaya penguntitan dan juga pemantauan yang dilakukan oleh pelaku, atau pihak pihak yang kemudian kami identifikasi orang tak dikenal kepada saudara Andrie Yunus, informasi yang diterima ada beberapa target operasi," ujarnya. Pola pergerakan yang terstruktur dan jumlah pelaku yang banyak mengindikasikan bahwa seluruh tindakan merupakan rangkaian yang dirancang secara sistematis.

Keterlibatan Prajurit TNI dan Tindak Lanjut

Sebelumnya, Puspom TNI telah mengonfirmasi bahwa empat prajurit BAIS TNI menjadi terduga pelaku dalam kasus ini. Keempatnya berinisial NDP, SL, BHW, dan ES, yang merupakan anggota Denma BAIS TNI dengan matra Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Saat ini, para tersangka telah diamankan dan masih dalam pendalaman oleh Puspom TNI.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban, TNI juga melakukan serah terima jabatan Kepala Badan Intelijen Strategis (Kabais) TNI. Kapuspen TNI, Mayjen Aulia Dwi Nasrullah, menyatakan, "Jadi kami perlu sampaikan di sini, sebagai bentuk pertanggungjawaban, hari ini telah dilaksanakan penyerahan jabatan Kabais. Terima kasih," dalam konferensi pers di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, pada Rabu (25/3).

Kondisi Andrie Yunus dan Implikasi Kasus

Andrie Yunus, aktivis KontraS yang menjadi korban, dilaporkan masih berada di HCU (High Care Unit) dengan kondisi yang tidak baik-baik saja. Kasus ini telah menimbulkan kekhawatiran luas mengenai keamanan aktivis hak asasi manusia dan potensi penyalahgunaan wewenang intelijen. KontraS terus mendorong investigasi yang transparan dan komprehensif untuk mengungkap seluruh fakta di balik operasi ini, termasuk aktor intelektual yang bertanggung jawab.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga