Video Gibran Soal Program Tebus Motor Murah Rp 400.000 Ternyata Hoaks Rekayasa AI
Di media sosial, beredar sebuah video yang mengklaim Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menginformasikan program tebus motor murah dengan harga hanya Rp 400.000. Narasi ini mulai viral pada awal Maret 2026 dan menyebut program tersebut diadakan oleh pengusaha bernama Jhon LBF.
Namun, setelah ditelusuri oleh Tim Cek Fakta Kompas.com, video tersebut terbukti merupakan hasil rekayasa berbasis artificial intelligence (AI). Konten hoaks ini salah satunya dibagikan melalui akun Facebook yang tidak terverifikasi, menyesatkan banyak pengguna media sosial.
Detail Konten Hoaks yang Beredar
Video yang beredar menampilkan sosok yang mirip dengan Gibran Rakabuming Raka sedang berbicara tentang program tebus motor murah. Dalam narasinya, disebutkan bahwa program ini merupakan inisiatif dari pengusaha Jhon LBF dengan harga tebus yang sangat rendah, yaitu Rp 400.000 per unit.
Klaim tersebut langsung menarik perhatian publik, terutama di kalangan masyarakat yang mencari peluang ekonomi terjangkau. Namun, setelah investigasi mendalam, tim cek fakta menemukan bahwa video itu dibuat menggunakan teknologi AI deepfake, yang memanipulasi suara dan visual untuk menciptakan ilusi keaslian.
Hasil Investigasi Tim Cek Fakta Kompas.com
Tim Cek Fakta Kompas.com melakukan analisis terhadap video tersebut dan menemukan beberapa kejanggalan, antara lain:
- Kualitas audio dan visual yang tidak konsisten dengan rekaman resmi dari pihak pemerintah.
- Ketidakcocokan dalam gaya bicara dan konteks penyampaian yang tidak lazim untuk pengumuman resmi.
- Tidak adanya sumber informasi valid atau konfirmasi dari kantor Wakil Presiden atau pihak terkait lainnya.
Berdasarkan temuan ini, video tersebut dikategorikan sebagai hoaks dan tidak memiliki dasar fakta. Publik diimbau untuk selalu memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau membagikannya di media sosial.
Dampak dan Imbauan untuk Masyarakat
Peredaran hoaks semacam ini dapat menimbulkan kebingungan dan kerugian bagi masyarakat, terutama jika ada yang tertipu dan mengikuti program palsu tersebut. Oleh karena itu, penting untuk:
- Selalu mengecek sumber informasi dari media terpercaya atau lembaga resmi.
- Waspada terhadap konten yang menawarkan keuntungan besar dengan cara yang tidak masuk akal.
- Melaporkan konten hoaks kepada platform media sosial untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Dalam era digital, kecanggihan teknologi AI seperti deepfake semakin memudahkan pembuatan konten palsu. Masyarakat perlu meningkatkan literasi digital untuk membedakan antara informasi asli dan rekayasa.



