Legislator Soroti Pendidikan Karakter Usai Tragedi Pembunuhan Siswa SMP di Eks Kampung Gajah
Wakil Ketua Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Lalu Hadrian, memberikan respons mendalam terkait kasus tragis pembunuhan seorang siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 26 Bandung yang tewas dieksekusi oleh temannya sendiri di bekas kawasan wisata Kampung Gajah, Kabupaten Bandung Barat. Dalam pernyataannya di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, pada Jumat (20/2/2026), Lalu mengungkapkan bahwa komisi yang membidangi pendidikan, olahraga, pariwisata, ekonomi kreatif, dan kebudayaan tersebut tengah aktif menyusun regulasi tentang pembatasan akses digital bagi anak-anak.
Pembatasan Akses Digital untuk Anak Sekolah
"Saat ini sedang disusun aturan terkait dengan pembatasan tersebut. Seperti yang diterapkan di beberapa negara lain, misalnya dengan membatasi usia tertentu atau khusus untuk anak-anak usia sekolah. Di beberapa daerah di Indonesia pun sudah mulai menerapkan inisiatif serupa, termasuk di Jawa Barat dan Riau yang berencana memulainya," jelas Lalu Hadrian dengan nada serius.
Ia menambahkan bahwa pemberlakuan aturan pembatasan akses digital ini harus mempertimbangkan dampak lanjutannya secara komprehensif. Secara ideal, akses digital memang seharusnya dibatasi untuk anak-anak yang masih bersekolah.
"Tentu yang dimaksud adalah usia sekolah. Saat ini bahkan anak Sekolah Dasar saja sudah mulai bermain handphone. SD, SMP, SMA itu harus dibatasi. Yang jelas targetnya adalah usia sekolah. Di negara lain, ada yang menerapkan batasan usia 16 tahun ke bawah tidak diperbolehkan, bukan? Namun kami lebih menekankan pada kategori usia sekolah," tegas legislator tersebut.
Pentingnya Pendidikan Karakter untuk Cegah Kekerasan
Merespons kasus tewasnya siswa SMP tersebut, Lalu Hadrian secara khusus menekankan urgensi penerapan pendidikan karakter yang lebih kuat di lingkungan sekolah. Menurutnya, hal ini menjadi kunci penting untuk mencegah berbagai bentuk kekerasan yang kerap terjadi di dunia pendidikan.
"Melalui apa? Salah satu caranya adalah melalui pendidikan karakter. Pendidikan karakter ini menjadi sangat penting, sehingga dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, kami di Komisi X telah memasukkan hal tersebut sebagai salah satu pasal khusus di dalam undang-undang tersebut," papar Lalu.
Ia melanjutkan, "Tujuannya untuk apa? Ya untuk mencegah kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah. Baik kekerasan verbal, fisik, maupun kekerasan seksual. Fenomena ini ibarat gunung es. Ibaratnya, mati satu tumbuh seribu. Inilah yang harus kita antisipasi bersama-sama," tambahnya dengan penuh keprihatinan.
Kronologi Kasus Pembunuhan yang Menggemparkan
Sebelumnya, siswa SMPN 26 Bandung berinisial ZAAQ ditemukan tewas mengenaskan dengan sejumlah luka tusuk di tubuhnya. Kabar meninggalnya siswa SMP tersebut pertama kali diketahui publik melalui siaran langsung di platform media sosial TikTok, yang kemudian viral dan menimbulkan keresahan di masyarakat.
ZAAQ tewas dibunuh pada Senin, 9 Februari 2026, namun jenazahnya baru ditemukan pada Jumat, 13 Februari 2026, di lahan eks Kampung Gajah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat. Polisi kemudian berhasil mengamankan dua tersangka berinisial YA (16 tahun) dan AP (17 tahun) di kediamannya di Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, pada Minggu (15/2) dini hari. Kedua pelaku yang masih di bawah umur tersebut sempat mampir ke Tasikmalaya sebelum akhirnya kembali ke Garut.
"Terkait penemuan mayat di eks Kampung Gajah, kami telah mengamankan pelakunya. Ada dua orang yang juga masih berstatus di bawah umur. Kami amankan di Garut," konfirmasi Kapolres Cimahi, AKBP Niko N. Adi Putra, seperti dilansir dari berbagai sumber.
Kasus pembunuhan siswa SMP di eks Kampung Gajah ini menyoroti berbagai masalah kompleks, mulai dari kekerasan di kalangan remaja, dampak negatif akses digital tanpa pengawasan, hingga urgensi penguatan pendidikan karakter di institusi pendidikan. Komisi X DPR terus mendorong langkah-langkah preventif untuk mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.



