Pemerintah terus memperkuat apresiasi kepada para atlet berprestasi. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menegaskan bahwa bonus yang diberikan merupakan bentuk nyata penghargaan negara atas perjuangan atlet di panggung dunia. Bonus ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan, tetapi juga menjadi bekal masa depan.
Perjuangan Atlet di Balik Layar
Perjuangan atlet tidak hanya terlihat saat bertanding di arena, tetapi juga melalui proses panjang penuh disiplin dan pengorbanan. Latihan intens, tekanan kompetisi, hingga risiko cedera menjadi bagian dari keseharian mereka demi mengharumkan nama Indonesia di level internasional. Selama ini, profesi atlet kerap dipandang belum menjanjikan dari sisi kesejahteraan jangka panjang. Kekhawatiran soal masa depan setelah pensiun pun sempat menjadi bayang-bayang, terutama ketika performa menurun atau cedera datang.
Namun, kondisi tersebut kini mulai berubah. Pemerintah menghadirkan skema bonus dengan nilai signifikan bagi atlet berprestasi, mulai dari ajang SEA Games, Asian Games hingga Olimpiade. Bonus ini tidak hanya menjadi bentuk apresiasi, tetapi juga bekal nyata untuk menata kehidupan setelah masa aktif sebagai atlet berakhir.
Bonus Jadi Bekal Masa Depan Atlet
Sejumlah kisah atlet menunjukkan dampak langsung dari kebijakan ini. Kisah sukses lifter Eko Yulianto adalah salah satunya. Mempersembahkan medali untuk Indonesia mulai dari SEA Games sampai Olimpiade membuat Eko bergelimang bonus. Hasilnya, Eko membelikan sawah untuk ayahnya, Saman. Sang ayah yang tadinya menarik becak untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari kini menjadi petani mengolah sawah miliknya. Eko juga mendirikan tempat latihan angkat besi sebagai bukti kontribusinya untuk regenerasi mencari penerus dirinya.
Mimpi manis karateka Leica Al Humaira Lubis untuk membahagiakan keluarga juga terwujud dengan membeli rumah hasil bonus raihan emas di SEA Games Thailand 2025. Sama seperti perubahan nasib yang dirasakan atlet timnas hoki putra, Revo Prilianto, yang memanfaatkan bonus SEA Games 2023 dan 2025 untuk investasi emas dan mempersiapkan dana pendidikan bagi buah hati.
Komitmen Negara dan Pesan untuk Atlet
Kesaksian para atlet akan peningkatan taraf hidup mereka adalah bukti komitmen pemerintah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, untuk memprioritaskan kesejahteraan para atlet sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga berprestasi dan berkelanjutan. Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir menyampaikan bahwa pemerintah menyadari betul pengorbanan yang dilakukan para atlet dalam mempersiapkan diri dan berjuang di pertandingan demi membanggakan bangsa.
“Para atlet adalah putra-putri terbaik yang pada saat pertandingan bukan hanya berjuang habis-habisan untuk mendapatkan gelar juara, tapi juga bertekad mengangkat nama bangsa di panggung internasional, menunjukkan kedigdayaan Indonesia di mata dunia. Seperti apa yang selalu dikatakan oleh Presiden Prabowo, bahwa atlet adalah aset bangsa yang harus kita hargai dan apresiasi pengorbanannya,” ujar Menpora Erick.
“Negara akan selalu hadir dalam kehidupan para atlet. Bukan hanya saat seremoni pemberangkatan kontingen atau saat pengalungan medali saja. Pemerintah selalu di belakang atlet untuk mendukung, membina dan mengupayakan kesejahteraan hidup mereka. Bonus yang diberikan pemerintah bukan hanya sekedar simbol melainkan bukti nyata penghormatan negara kepada jasa dan jerih payah mereka. Kami memastikan bahwa keringat yang mereka keluarkan akan mengantarkan para atlet kepada masa depan yang lebih baik,” imbuh Menpora Erick.
Bonus yang sama juga dirasakan oleh atlet disabilitas Ni Nengah Widiasih. Atlet para-powerlifting asal Bali ini menggunakan bonus dari ajang Paralimpiade untuk membuka usaha kuliner di daerah asalnya, yang berarti bukan hanya meningkatkan pendapatan pribadi tapi juga membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat. Sejalan dengan keinginan Presiden Prabowo Subianto mengenai pemanfaatan bonus, Menpora Erick pun berpesan agar para atlet bisa menggunakan apresiasi yang diberikan negara untuk kebutuhan jangka panjang termasuk pendidikan, pengembangan kapabilitas diri, tabungan dan investasi sehingga tak ada lagi masa surut bagi mereka ketika tiba saatnya untuk pensiun.
“Alhamdulillah puji syukur tak terkira saat mendengar cerita dari Eko Yuli, Leica, Revo ataupun Ni Nengah Widiasih, kehidupan mereka membaik berkat kerja keras yang tak pernah henti. Mereka juga memberikan contoh bagaimana pemanfaatan bonus dengan bijak dan berorientasi pada masa depan, bukan hanya memuaskan kesenangan sesaat. Apa yang mereka lakukan bisa menjadi inspirasi atlet lainnya dalam mempersiapkan masa depan,” tutup Menpora Erick.



