Jakarta - Anggota DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan event tinju antar pelajar Arena Selatan 2026 yang berlangsung di GOR Bulungan, Jakarta. Ajang yang melibatkan puluhan pelajar SMA dari berbagai sekolah ini dinilai sebagai terobosan penting untuk mengalihkan energi remaja ke kegiatan yang sehat, kompetitif, dan bermartabat. Hal ini sangat relevan di tengah meningkatnya kasus tawuran serta kekerasan di lingkungan pelajar.
Konsep Profesional dan Edukatif
Arena Selatan digelar dengan konsep profesional dan edukatif. Puluhan pelajar SMA turun bertanding di bawah pengawasan pelatih serta perangkat pertandingan resmi. Para peserta dilatih untuk memahami aturan, menjaga emosi, menghormati lawan, dan bertanggung jawab terhadap tindakan mereka di atas ring.
"Olahraga mengajarkan bahwa lawan di arena bukan musuh dalam kehidupan. Setelah pertandingan selesai, mereka kembali berjabat tangan, saling menghormati, dan membangun relasi sebagai teman. Nilai seperti itu yang sangat dibutuhkan anak-anak muda saat ini," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (16/5/2026). Pernyataan ini disampaikan saat Bamsoet menghadiri ajang tinju antar pelajar Arena Selatan 2026 di GOR Bulungan Jakarta.
Pembukaan oleh Wamenpora
Ajang Tinju Pelajar Arena Selatan 2026 dibuka secara resmi oleh Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga RI (Wamenpora) Taufik Hidayat yang mewakili Menpora Erick Thohir.
Data Kekerasan Pelajar yang Memprihatinkan
Bamsoet menjelaskan bahwa fenomena kekerasan pelajar pada tahun 2025 semakin memprihatinkan. Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri mencatat hingga akhir tahun 2025 sebanyak 21.945 anak dan remaja di bawah usia 20 tahun berhadapan dengan hukum. Sebagian besar kasus berkaitan dengan kekerasan, bullying, tawuran, dan kriminalitas jalanan. Dalam laporan tersebut, anak laki-laki mendominasi dengan jumlah lebih dari 19 ribu kasus.
Sementara itu, data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat terdapat 2.031 kasus pelanggaran hak anak sepanjang tahun 2025 dengan lebih dari 2.063 anak menjadi korban. KPAI menyoroti meningkatnya kekerasan di lingkungan pendidikan, pengaruh media sosial, bullying, hingga tawuran yang semakin brutal dan terorganisasi melalui platform digital.
Pendekatan Modern untuk Masalah Modern
"Media sosial sekarang sering dipakai untuk provokasi, saling ejek, hingga mengatur tawuran. Karena itu pendekatannya juga harus modern. Anak muda harus dipertemukan dalam kegiatan yang membangun solidaritas positif, kreativitas, dan kebanggaan terhadap prestasi," kata Ketua DPR RI ke-20 tersebut.
Bamsoet menambahkan bahwa pendekatan olahraga seperti Arena Selatan jauh lebih efektif membangun karakter dibanding sekadar razia atau hukuman sesaat. Di dalam olahraga, remaja belajar mengendalikan emosi, menghormati aturan, menerima kekalahan, dan bangkit dari kegagalan. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting untuk menekan budaya kekerasan yang selama ini tumbuh di kalangan pelajar.
Banyak kasus tawuran terjadi akibat solidaritas sempit antar kelompok sekolah yang kemudian berkembang menjadi dendam turun-temurun. "Kita ingin melahirkan generasi muda yang kuat secara mental, sehat secara fisik, dan matang secara sosial. Arena Selatan membuktikan bahwa olahraga bisa menjadi alat pemersatu, memperkuat persaudaraan, sekaligus menekan tawuran pelajar yang selama ini meresahkan masyarakat," pungkasnya.



