Kronologi Lengkap Dwi Sasetyaningtyas Ditegur LPDP karena Pamer Paspor Anak WNA
Dwi Sasetyaningtyas Ditegur LPDP karena Pamer Paspor Anak WNA

Penerima Beasiswa LPDF Ditegur Usai Pamer Paspor Anak Berkewarganegaraan Asing

Kasus yang melibatkan Dwi Sasetyaningtyas, seorang penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), telah menimbulkan sorotan publik setelah ia mendapatkan teguran resmi dari lembaga tersebut. Insiden ini berawal dari unggahan di media sosial yang memamerkan paspor anaknya yang memiliki status kewarganegaraan asing (WNA). LPDP menilai tindakan ini melanggar aturan dan etika yang berlaku bagi penerima beasiswa mereka.

Kronologi Lengkap Peristiwa yang Menghebohkan

Berikut adalah empat poin kronologi yang merinci peristiwa tersebut, berdasarkan informasi yang telah dikonfirmasi:

  1. Unggahan Awal di Media Sosial: Pada pertengahan Februari 2026, Dwi Sasetyaningtyas mengunggah foto atau konten di platform media sosial pribadinya yang menunjukkan paspor anaknya. Dalam unggahan tersebut, terlihat jelas bahwa anak tersebut memiliki paspor dengan kewarganegaraan asing, yang kemudian menarik perhatian netizen dan pihak terkait.
  2. Respons dan Viral di Dunia Maya: Unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan menjadi viral di berbagai platform media sosial. Banyak pengguna internet yang mempertanyakan kesesuaian tindakan Dwi sebagai penerima beasiswa LPDP, dengan beberapa komentar mengkritik etika dan kepatuhan terhadap peraturan lembaga.
  3. Intervensi dan Investigasi oleh LPDP : Menyusul viralnya kasus ini, LPDP mengambil langkah proaktif dengan melakukan investigasi internal. Lembaga ini memeriksa fakta-fakta terkait unggahan tersebut dan menilai apakah terdapat pelanggaran terhadap ketentuan yang mengikat para penerima beasiswanya, termasuk aturan tentang perilaku di media sosial.
  4. Penerbitan Teguran Resmi: Berdasarkan hasil investigasi, LPDP akhirnya mengeluarkan teguran resmi kepada Dwi Sasetyaningtyas. Teguran ini menyatakan bahwa tindakannya dalam memamerkan paspor anak WNA dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai dan kewajiban sebagai penerima beasiswa, yang diharapkan menjaga citra positif lembaga dan negara.

Insiden ini menyoroti pentingnya kesadaran etika digital bagi para penerima beasiswa, terutama yang didanai oleh lembaga pemerintah seperti LPDP. LPDP sendiri telah menegaskan komitmennya untuk terus memantau dan menegakkan aturan bagi semua penerima beasiswa, guna menjaga integritas program pendidikan yang mereka kelola.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Dampak dari kasus ini juga mengingatkan para awardee lainnya untuk lebih berhati-hati dalam beraktivitas di ruang publik virtual. Pelanggaran serupa di masa depan dapat berpotensi mendapatkan sanksi yang lebih berat, termasuk pemutusan beasiswa, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga