Kemensos Luncurkan Rekrutmen Aktif Siswa Sekolah Rakyat untuk Tahun Ajaran Baru
Kementerian Sosial (Kemensos) secara resmi memulai proses penjangkauan atau perekrutan siswa Sekolah Rakyat (SR) untuk tahun ajaran 2026/2027. Inisiatif ini merupakan upaya strategis untuk memastikan anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem dapat mengenyam pendidikan secara layak dan berkelanjutan.
Pendekatan Jemput Bola untuk Akses Pendidikan yang Lebih Inklusif
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa proses rekrutmen ini dilakukan secara aktif dengan mendatangi langsung calon siswa beserta keluarganya. Hal ini berbeda dari mekanisme pendaftaran terbuka yang umum diterapkan.
"Kami saat ini sedang bersiap untuk melakukan penjangkauan siswa-siswa Sekolah Rakyat. Jadi, tidak ada pembukaan pendaftaran konvensional. Semua dijangkau secara aktif dan personal," ujar Gus Ipul dalam keterangan tertulis yang dirilis pada Rabu, 15 April 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan sebelumnya di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta, pada Selasa, 14 April 2026. Gus Ipul menjelaskan bahwa pola jemput bola ini menandai perubahan signifikan dalam pendekatan rekrutmen siswa. Melalui skema ini, negara hadir secara langsung untuk menjangkau kelompok sasaran yang selama ini menghadapi berbagai hambatan dalam mengakses pendidikan, seperti keterbatasan ekonomi, minimnya informasi, dan keraguan terhadap sistem.
Kolaborasi Multisektor dan Verifikasi Lapangan
Proses penjangkauan dilaksanakan secara kolaboratif oleh pendamping Kemensos bersama Dinas Sosial, unsur pendidikan, serta Badan Pusat Statistik (BPS). Petugas akan turun langsung ke lapangan untuk melakukan verifikasi mendalam terhadap kondisi keluarga, memastikan persetujuan orang tua, dan menilai kesesuaian calon siswa dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Pendekatan ini dirancang untuk mengatasi berbagai kendala struktural yang selama ini menghambat partisipasi pendidikan di kalangan masyarakat rentan. Gus Ipul menekankan bahwa proses tersebut tetap mengacu pada Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai basis penentuan sasaran, khususnya bagi keluarga pada desil 1 dan 2 yang termasuk dalam kategori paling tidak mampu.
"Siapa yang menjadi sasaran? Mereka adalah keluarga paling tidak mampu. Anak-anak yang belum sekolah, tidak sekolah, putus sekolah, atau berpotensi putus sekolah," jelasnya dengan tegas.
Penegasan Integritas dan Transparansi dalam Pelaksanaan
Gus Ipul juga mengingatkan seluruh pihak yang terlibat dalam proses penjangkauan agar menjalankan tugas sesuai aturan dan prosedur yang berlaku, serta menjaga integritas pelaksanaan di lapangan. "Sesuai arahan Presiden, tidak boleh ada titipan, tidak boleh ada suap menyuap, dan tidak boleh ada praktik KKN," tegasnya.
Kemensos mengajak masyarakat untuk turut serta mengawal proses penjangkauan ini agar berjalan transparan dan tepat sasaran. Dengan dimulainya penjangkauan siswa baru tersebut, diharapkan program Sekolah Rakyat dapat terus menjangkau anak-anak yang paling membutuhkan, sekaligus menjadi langkah nyata dalam memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan yang berkualitas.



