Kondisi Darurat Pendidikan di Pandeglang: Siswa SD Belajar di Dapur 4 Bulan
Siswa SD Pandeglang 4 Bulan Belajar di Dapur

Kondisi Darurat Pendidikan di Pandeglang: Siswa SD Belajar di Dapur 4 Bulan

Dua ruang kelas di SDN Kutakarang 3, Kecamatan Cibitung, Kabupaten Pandeglang, mengalami kerusakan parah akibat pergerakan tanah yang tidak stabil. Kondisi ini telah memaksa para siswa untuk belajar di tempat yang tidak layak, yaitu di dapur dan perpustakaan sekolah, selama lebih dari empat bulan terakhir.

Kerusakan Struktural yang Mengkhawatirkan

Menurut keterangan dari Ade, seorang guru di SDN Kutakarang 3, kerusakan tersebut mulai terjadi sejak awal tahun 2026 dan terus meluas seiring waktu. Tanah yang labil tidak mampu menopang beban bangunan, menyebabkan dinding dan lantai kelas mengalami amblas yang signifikan.

"Itu rusak karena tanahnya bergerak, bangunan baru satu tahun," jelas Ade saat dikonfirmasi pada Senin, 6 April 2026. Ia menambahkan bahwa kondisi tersebut membuat ruang kelas tidak mungkin lagi digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Efek Langsung pada Proses Belajar Mengajar

Sebagai respons terhadap kekhawatiran akan keselamatan, pihak sekolah telah memindahkan siswa dari ruang kelas yang rusak sejak bulan Februari 2026. Namun, solusi sementara yang diterapkan justru menimbulkan tantangan baru:

  • Siswa terpaksa belajar di dapur sekolah, yang tidak dirancang untuk aktivitas akademis.
  • Perpustakaan juga digunakan sebagai ruang kelas alternatif, meski kapasitasnya terbatas.
  • Kondisi ini berlangsung tanpa kepastian kapan ruang kelas akan diperbaiki atau diganti.

"Sementara para siswa belajar di dapur dan perpustakaan," ungkap Ade, menggambarkan situasi darurat yang dialami oleh komunitas sekolah.

Upaya Penanganan dan Tanggapan Pemerintah

Pihak sekolah telah melaporkan kondisi kerusakan ini kepada Pemerintah Kabupaten Pandeglang. Namun, hingga saat ini belum ada kepastian mengenai langkah konkret yang akan diambil untuk mengatasi masalah tersebut.

"Belum ada kepastian mau digimanakan," kata Ade, menyoroti ketidakpastian yang memperpanjang penderitaan siswa dan guru.

Di sisi lain, kontraktor yang bertanggung jawab atas pembangunan sekolah telah melakukan tindakan darurat dengan memisahkan bagian bangunan yang rusak dari yang masih utuh. Langkah ini bertujuan untuk mencegah kerusakan meluas ke area lain di sekolah.

"Penanganan dari pihak kontraktor dipotong dulu supaya kelas yang utuh, tidak ikut tertarik sama yang sudah rusak," pungkas Ade, menggarisbawahi upaya mitigasi yang dilakukan meski belum menyelesaikan akar masalah.

Implikasi Jangka Panjang bagi Pendidikan

Kondisi ini tidak hanya mengganggu proses belajar mengajar, tetapi juga menimbulkan pertanyaan serius tentang kualitas infrastruktur pendidikan di daerah rawan bencana geologis. Tanah bergerak yang menyebabkan kerusakan ini mengindikasikan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap lokasi dan konstruksi bangunan sekolah di Pandeglang.

Tanpa intervensi cepat dari otoritas terkait, siswa SDN Kutakarang 3 berisiko terus belajar dalam lingkungan yang tidak ideal, yang dapat berdampak negatif pada prestasi akademik dan kesejahteraan psikologis mereka.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga