Video pendek di TikTok berhasil membuka tabir kegagalan puluhan tahun rapat anggaran pendidikan oleh pemangku kebijakan dan pembentuk undang-undang. Video itu memperlihatkan seorang guru honorer dengan nama pena Bu Ijah membuka amplop gajinya. Isinya Rp 414.000, hasil dari pengabdian selama 40 tahun mengajar.
Sosok di Balik Akun Bu Ijah
Di balik akun itu, Kompas.com menemukan Atrianil (63), warga Gondrong, Cipondoh, Tangerang, yang baru saja pensiun pada 23 Juni 2026 setelah 31 tahun mengabdi di salah satu SMK swasta di Jakarta Barat. Angka gaji itu sudah cukup untuk membuat siapa pun mengerutkan kening. Namun, yang membuat kisah Bu Ijah lebih dari sekadar angka adalah caranya menjalani profesi ini: dengan integritas yang, ironisnya, justru menjadi sumber kisah pilu dalam tulisan ini.
Gaji Rp 414.000 untuk 31 Tahun Pengabdian
Atrianil memulai karier sebagai guru honorer pada tahun 1995. Selama 31 tahun, ia hanya menerima gaji sekitar Rp 414.000 per bulan. Jumlah tersebut jauh di bawah upah minimum regional (UMR) yang berlaku. Menurut Atrianil, gaji tersebut tidak pernah mengalami kenaikan signifikan selama puluhan tahun. Ia mengaku bertahan karena kecintaannya pada dunia pendidikan dan murid-muridnya.
"Saya tidak pernah berpikir untuk berhenti. Saya merasa bertanggung jawab untuk mendidik anak-anak bangsa," ujar Atrianil kepada Kompas.com. Ia juga menambahkan bahwa banyak guru honorer lain yang nasibnya tidak lebih baik darinya.
Viral di TikTok dan Sorotan Publik
Video yang diunggah di akun TikTok @bu_ijah pada 10 Maret 2026 langsung viral. Hingga berita ini diturunkan, video tersebut telah ditonton lebih dari 5 juta kali dan mendapat ribuan komentar. Banyak warganet yang menyatakan simpati dan mengecam pemerintah atas rendahnya kesejahteraan guru honorer.
"Ini adalah cermin bagi bangsa kita. Guru yang mengabdikan puluhan tahun hanya digaji segini. Sangat memprihatinkan," tulis salah satu komentar di video tersebut. Tagar #BuIjah juga sempat menjadi trending topic di Twitter Indonesia.
Dampak dan Harapan ke Depan
Kisah Bu Ijah menjadi simbol perjuangan guru honorer di Indonesia. Data dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada 2025 menunjukkan bahwa masih ada sekitar 800.000 guru honorer di Indonesia dengan gaji rata-rata di bawah Rp 1 juta per bulan. Banyak di antara mereka yang mengajar di daerah terpencil dan tidak mendapat tunjangan yang memadai.
Atrianil berharap pemerintah segera merevisi sistem penggajian guru honorer. "Saya tidak ingin kejadian seperti saya terulang pada generasi guru berikutnya. Anak-anak bangsa layak mendapat pendidikan berkualitas dari guru yang sejahtera," pungkasnya.



