Batalyon 14 Grup 1 Kopassus Serang menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Eco-Office, Pengelolaan Sampah, dan Inovasi Pengembangan Lingkungan pada Jumat, 12 Juni 2026, pukul 09.00–11.00 WIB, bertempat di Aula Wahyu Prabowo, Batalyon 14 Grup 1 Kopassus Serang. Kegiatan ini menghadirkan Taufiq Supriadi sebagai narasumber yang membagikan pengalaman pengembangan lingkungan berbasis komunitas melalui konsep Survival Architecture Indonesia, sebagaimana telah diterapkan di RT 008/RW 004 Malaka Jaya, Jakarta Timur.
Prajurit Didorong Jadi Pelopor Ketahanan Lingkungan
Dalam kegiatan tersebut, Letkol Kopassus Tomy memberikan arahan kepada para prajurit agar senantiasa menjaga lingkungan sebagai bagian dari disiplin dan tanggung jawab prajurit. Ia menegaskan bahwa prajurit perlu mendengarkan dengan sungguh-sungguh, memahami, dan melaksanakan hal-hal baik dari pengalaman yang disampaikan oleh Dr. Taufiq Supriadi. Menurutnya, pengalaman pengelolaan lingkungan yang telah dijalankan di RT8 Malaka Jaya dapat menjadi pembelajaran penting bagi prajurit Batalyon 14 Grup 1 Kopassus Serang dalam membangun lingkungan yang lebih bersih, sehat, produktif, dan berkelanjutan.
Konsep Survival Architecture Indonesia
Dalam pemaparannya, Taufiq menegaskan bahwa pengelolaan lingkungan tidak cukup hanya berhenti pada kegiatan seremonial atau sosialisasi, tetapi harus diwujudkan dalam sistem yang berjalan secara nyata, terukur, dan berkelanjutan. “Kalau di RT8 Malaka Jaya, di tengah kawasan padat penduduk dan lahan terbatas, Survival Architecture Indonesia bisa berjalan, maka di Batalyon 14 Kopassus Serang yang memiliki disiplin komando, semangat gotong royong, dan potensi lahan yang lebih luas, gerakan ini semestinya bisa berjalan lebih kuat dan menjadi contoh bagi Indonesia,” ujar Taufiq.
Survival Architecture Indonesia merupakan pendekatan ketahanan lingkungan dan pangan berbasis kawasan. Konsep ini mengintegrasikan pengelolaan sampah organik, kompos, maggot, ayam petelur, kolam ikan, pemanfaatan air hujan, energi surya, kebun pangan, serta partisipasi aktif warga atau komunitas setempat. Menurut Taufiq, prajurit komando memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk menjadi pelopor perubahan lingkungan. Disiplin, kepemimpinan, kekompakan, dan kemampuan bekerja dalam sistem menjadi keunggulan yang dapat mempercepat keberhasilan penerapan gerakan ini.
Tantangan untuk Batalyon 14 Kopassus
“Prajurit komando tidak hanya kuat dalam medan operasi. Prajurit komando juga bisa menjadi pelopor ketahanan pangan, ketahanan lingkungan, dan ketahanan sosial. Saya menantang Batalyon 14 untuk membuktikan bahwa Survival Architecture Indonesia bisa running well di lingkungan Kopassus Serang,” tambahnya. Kegiatan ini juga menekankan pentingnya perubahan perilaku dalam pengelolaan sampah. Sampah organik yang selama ini sering dianggap sebagai masalah dapat diubah menjadi sumber daya, antara lain menjadi kompos, pakan maggot, pakan ayam dan ikan, serta pendukung kesuburan tanaman. Dengan pendekatan tersebut, lingkungan tidak hanya menjadi lebih bersih, tetapi juga lebih produktif dan mandiri.
Harapan ke Depan
Batalyon 14 Grup 1 Kopassus Serang diharapkan dapat menjadi salah satu model kawasan komando yang menerapkan prinsip zero waste, ketahanan pangan, dan inovasi lingkungan secara terpadu. Jika berjalan konsisten, model ini dapat direplikasi ke satuan, komunitas, sekolah, pesantren, perkantoran, maupun wilayah permukiman lainnya. Taufiq juga menyampaikan bahwa kehadirannya bukan untuk merasa lebih hebat, melainkan untuk berbagi pengalaman dari gerakan kecil yang telah berjalan di RT8 Malaka Jaya. “Saya datang bukan untuk menggurui dan bukan merasa hebat. Saya hanya ingin berbagi bahwa dari gang kecil pun bisa lahir solusi besar. Semoga dari Batalyon 14 Kopassus Serang lahir gerakan yang lebih kuat, lebih disiplin, dan lebih berdampak untuk Indonesia,” pungkasnya. Melalui kegiatan ini, kolaborasi antara unsur TNI, pemerintah daerah, komunitas, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat kesadaran bersama bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ketahanan bangsa.



