Dosen Unair Hanya Bergaji Rp 2,6 Juta, Ini Kisahnya
Dosen Unair Hanya Bergaji Rp 2,6 Juta, Ini Kisahnya

Dosen tetap non-Aparat Sipil Negara (ASN) Universitas Airlangga (Unair), Cenuk Widiayastrisna Sayekti, mengungkapkan bahwa gaji yang diterimanya sebagai dosen hanya sebesar Rp 2,6 juta per bulan. Pengakuan ini disampaikan Cenuk dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari laman resmi Mahkamah Konstitusi (MK) RI, Jumat (3/7/2026).

“Ketika mulai bekerja di Universitas Airlangga, gaji pokok yang saya terima adalah sekitar Rp 2,6 juta per bulan,” kata Cenuk. Ia menceritakan bahwa nominal tersebut jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi di tengah biaya hidup yang terus meningkat.

Kesejahteraan Dosen Non-ASN Masih Rendah

Kisah Cenuk menjadi gambaran nyata tentang masih rendahnya kesejahteraan dosen non-ASN di Indonesia. Meskipun memiliki tanggung jawab yang sama dengan dosen ASN, seperti mengajar, meneliti, dan mengabdi, gaji yang diterima sangat berbeda. Cenuk menambahkan bahwa tunjangan dan fasilitas lain yang diterima juga sangat minim, sehingga ia harus bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

“Saya harus mencari penghasilan tambahan dari luar, seperti menjadi pembicara atau menulis artikel, untuk bisa bertahan,” ujarnya. Kondisi ini tidak hanya dialami oleh Cenuk, tetapi juga oleh banyak dosen non-ASN di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia.

Dampak pada Kualitas Pendidikan

Rendahnya gaji dosen non-ASN berpotensi memengaruhi kualitas pendidikan tinggi. Dosen yang tidak sejahtera cenderung kurang fokus dalam menjalankan tugas akademiknya. Mereka mungkin lebih banyak menghabiskan waktu untuk mencari penghasilan tambahan daripada mengembangkan penelitian atau meningkatkan kualitas pengajaran.

“Ini masalah serius. Jika dosen tidak sejahtera, bagaimana mereka bisa memberikan yang terbaik untuk mahasiswa?” kata pengamat pendidikan dari Universitas Indonesia, Prof. Andi Hamzah, dalam sebuah wawancara terpisah. Ia mendorong pemerintah untuk segera merevisi kebijakan penggajian dosen non-ASN agar lebih adil.

Harapan Perbaikan di Masa Depan

Cenuk berharap pemerintah dan pihak universitas dapat memberikan perhatian lebih pada kesejahteraan dosen non-ASN. Ia mengingatkan bahwa dosen adalah ujung tombak pendidikan tinggi, sehingga kesejahteraan mereka harus dijamin.

“Kami hanya ingin dihargai setara dengan dosen ASN. Bukan hanya soal gaji, tetapi juga tunjangan dan jaminan masa depan,” pungkas Cenuk. Kisahnya menjadi pengingat bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga