Kemendagri Tingkatkan Akurasi Kebijakan dengan Metode Rasch Model untuk Data Berkualitas
Kemendagri Perkuat Kebijakan dengan Rasch Model untuk Data Akurat

Kemendagri Perkuat Fondasi Kebijakan dengan Penerapan Rasch Model

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) terus berkomitmen untuk meningkatkan kualitas perumusan kebijakan yang berbasis bukti (evidence-based policy). Langkah strategis yang diambil adalah dengan menerapkan Rasch Model dalam pengembangan instrumen survei, sebagai upaya untuk memperkuat kualitas data yang menjadi dasar kebijakan.

Pentingnya Instrumen Valid dan Reliabel

Sekretaris BSKDN, Noudy R. P. Tendean, menegaskan bahwa kualitas data sangat bergantung pada kualitas instrumen yang digunakan, terutama dalam survei sebagai sumber utama data kebijakan. "Kebijakan yang baik harus didukung oleh data yang baik, dan data yang baik harus berasal dari instrumen yang benar-benar teruji, valid, dan reliabel," ujarnya dalam pembukaan Sosialisasi Penggunaan Rasch Model di Command Center BSKDN pada Selasa, 31 Maret 2026.

Noudy menjelaskan bahwa pendekatan klasik seperti uji validitas dan reliabilitas umum sudah banyak diterapkan. Namun, perkembangan metodologi pengukuran kini menawarkan pendekatan yang lebih komprehensif dan presisi melalui Rasch Model. Metode ini memungkinkan analisis mendalam terhadap kualitas butir pertanyaan dalam instrumen survei, dengan kemampuan untuk mengidentifikasi:

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram
  • Tingkat kesulitan setiap item pertanyaan.
  • Konsistensi respons dari para responden.
  • Kesesuaian instrumen dengan konstruk yang diukur.
  • Potensi bias pada setiap pertanyaan yang diajukan.

"Melalui pendekatan ini, kita tidak hanya mengetahui apakah instrumen cukup baik, tetapi juga memastikan bahwa instrumen tersebut benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur," jelas Noudy.

Bukan Hanya Peningkatan Teknis, Tapi Strategis

Noudy menekankan bahwa penerapan Rasch Model bukan sekadar peningkatan teknis, melainkan bagian dari upaya strategis untuk memperkuat kualitas evidence dalam perumusan kebijakan. Dia mengingatkan bahwa instrumen yang lemah berpotensi menghasilkan data yang bias, yang pada akhirnya dapat berdampak pada ketidaktepatan rekomendasi kebijakan. "Jika data yang kita gunakan bias, maka kebijakan yang dihasilkan pun berisiko tidak tepat sasaran. Oleh karena itu, penguatan metodologi menjadi sangat penting," tegasnya.

Associate Professor Bambang Sumintono, yang turut hadir dalam sosialisasi, menambahkan bahwa Rasch Model memberikan pendekatan pengukuran yang lebih akurat karena tidak hanya berfokus pada kelompok, tetapi juga pada karakteristik individu responden. Dia menjelaskan bahwa dalam Rasch Model, data tidak langsung dianggap sebagai hasil pengukuran akhir, melainkan perlu melalui proses transformasi agar memiliki makna yang lebih kuat secara ilmiah.

Langkah Awal Menuju Kebijakan yang Lebih Berdampak

Kegiatan sosialisasi ini diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat fondasi metodologis BSKDN. Dengan demikian, badan ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi kebijakan yang lebih akurat, tepat sasaran, dan berdampak nyata bagi masyarakat. Penerapan Rasch Model diharapkan dapat menghindari bias data dan meningkatkan akurasi dalam perumusan kebijakan publik, sehingga mendukung tujuan pembangunan nasional yang lebih efektif.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga