Di Balik Seragam Oranye: Muklisin PPSU Pilih Jujur Lawan Godaan Manipulasi AI
Ketika teknologi akal imitasi (AI) mampu membuat pekerjaan tampak selesai tanpa benar-benar dikerjakan, siapa yang masih bertahan pada kerja nyata? Pertanyaan ini semakin relevan di tengah kasus dugaan manipulasi dokumentasi pekerjaan oleh petugas PPSU di Kelurahan Kalisari, Jakarta. Realitas kini tak hanya dilaporkan, tetapi juga bisa diproduksi melalui AI, mengaburkan batas antara kerja fisik dan sekadar tampilan, bahkan di level pelayanan publik yang paling dekat dengan masyarakat.
Sosok Kontras di Tengah Polemik
Di tengah permasalahan itu, muncul sosok Muklisin (40), petugas PPSU wilayah Jakarta Utara, sebagai kontras yang mencolok. Melalui akun media sosialnya @skil_zona_sia_sia, ia rutin membagikan dokumentasi pekerjaan dalam format before-after lengkap dengan waktu dan lokasi. Bukan sekadar laporan, tetapi bukti nyata dari kerja fisik yang dilakukan setiap hari. "Waktu ketemu Bapak Gubernur DKI Jakarta (Pramono Anung) membahas tentang kinerja dan memberikan apresiasi kepada saya serta dukungan, untuk selalu support kinerja PPSU, yang selalu menjaga amanah saat menjalankan tugas," ujar Muklisin.
Bagi Muklisin, bekerja bukan hanya soal menyelesaikan laporan, tetapi tentang tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat yang merasakan langsung dampaknya. Ia menegaskan bahwa hasil kerja dan laporan tidak bisa dipisahkan, namun laporan harus mencerminkan kondisi lapangan yang sebenarnya. "Kecewa, sangat mencoreng, karena pekerjaan PPSU itu tidak semuanya buruk," katanya menanggapi kasus manipulasi dokumentasi dengan AI.
Perjalanan dari Keterbatasan Menuju Pengabdian
Perjalanan Muklisin menjadi petugas PPSU tidak dimulai dari pilihan yang mudah. Ia mengaku pekerjaan ini awalnya lahir dari keterbatasan. "Sejak 2010, sewaktu di swasta dan diambil-alih ke Kecamatan pada 2015, lalu diserahkan ke Kelurahan 2016 untuk bergabung di PPSU, waktu berdiri nya PPSU tahun 2015 itu kekurangan orang, jadi dari Kecamatan bagian Pesada dan PHB di oper ke kelurahan sebagai PPSU," ujarnya.
Muklisin juga menyebut bahwa latar belakang pendidikan menjadi salah satu alasan dirinya memilih pekerjaan ini. "Awal mula karena kendala ijazah, kerja ditempat lain tidak bisa mengunakan ijazah SD-SMP, jadi saya putuskan ikut kerja kebersihan di PPSU," katanya. Dari keterbatasan itu, Muklisin justru menemukan makna pengabdian, menjalani pekerjaan yang sering dipandang sebelah mata namun berdampak langsung bagi warga.
Rutinitas Panjang yang Tak Terlihat
Bagi banyak orang, pekerjaan PPSU mungkin hanya terlihat sekilas, namun di balik seragam oranye ada kerja fisik yang berat dan konsistensi tinggi. Hari Muklisin dimulai saat sebagian besar warga masih terlelap. "Aktivitas saya dalam satu hari dimulai absen jam 5 pagi, start kerja jam 6 pagi membersihkan zona yang sudah di bagikan, jarak tempuhnya 1 Kilometer per satu orang, hingga diselesaikan jam 3 sore," ujarnya.
Setiap hari, ia menyusuri jalan dengan sapu lidi di tangan dan karung di bahu, bekerja dalam diam membersihkan selokan, mengangkat sampah, dan merapikan lingkungan. Pekerjaan fisik yang melelahkan ini dilakukan tanpa banyak sorotan, namun memberikan kepuasan tersendiri. "Senang, bisa membantu warga untuk membersihkan lingkungan," katanya.
Kejujuran di Tengah Tantangan dan Harapan
Menjaga kejujuran dalam bekerja bukan hal mudah, terutama ketika sistem menuntut kecepatan laporan dan teknologi AI memudahkan manipulasi. Muklisin mengaku tantangan terbesar adalah menghadapi ketidakpercayaan publik. "Tantangan terbesar nya, sebagian orang-orang tidak percaya apa yang saya kerjakan di lapangan," ujarnya. Meski demikian, ia tetap berpegang pada prinsip tanggung jawab moral yang tidak bisa digantikan teknologi.
Pekerjaan sebagai PPSU menguras tenaga dan mental, namun Muklisin tidak pernah merasa terbebani berlebihan. "Selama ini belum pernah saya rasakan hal itu, karena saya rasa ini merupakan tanggung jawab yang harus saya jalankan," katanya. Ia berharap sistem kerja PPSU ke depan lebih menghargai kerja nyata. "Harapannya harus di tingkatkan kinerja nya dan selalu semangat menjaga kinerja yang jujur," ujarnya.
Untuk rekan-rekannya, ia menyampaikan pesan sederhana: "Pesan saya selalu semangat, jujur, ikhlas, sabar dan tekun." Bagi masyarakat, ia berharap ada kesadaran bersama menjaga lingkungan. "Selalu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang kebersihan lingkungan agar saling menjaga kebersihan bersama-sama," katanya. Di era di mana AI bisa menipu, kejujuran seperti Muklisin menjadi penyeimbang yang vital bagi integritas pelayanan publik.



