PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) menerapkan kebijakan kesempatan kerja yang adil (fair employment opportunity policy) untuk menjamin kesetaraan bagi seluruh karyawan tanpa memandang gender. Kebijakan ini sejalan dengan semangat Hari Kartini yang diperingati setiap tahun.
Komitmen Kesetaraan Gender
Direktur Human Capital SIG, Hadi Setiadi, menyatakan bahwa kebijakan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM) dan dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) di Indonesia. "Kami memastikan tidak ada diskriminasi dalam proses rekrutmen maupun seleksi untuk posisi manajemen dan senior. Seluruh proses dilakukan secara transparan berdasarkan kompetensi dan kinerja, bukan faktor gender," ujar Hadi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Fasilitas untuk Karyawan Perempuan
SIG menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung kebutuhan karyawan perempuan, seperti cuti melahirkan, ruang laktasi, dan dispensasi haid. Selain itu, perusahaan membentuk komunitas karyawan perempuan 'Srikandi SIG' sebagai wadah pemberdayaan dan pengembangan talenta melalui berbagai program pembelajaran. "Sebagai bagian dari komitmen menciptakan lingkungan kerja yang inklusif, SIG juga menerapkan respectful workplace policy untuk melindungi seluruh insan perusahaan dari segala bentuk pelecehan dan kekerasan. Dengan demikian, tercipta lingkungan kerja yang aman, kondusif, dan produktif," papar Hadi.
Wujud Komitmelalui Penunjukan Direktur Operasi Perempuan Pertama
Salah satu wujud komitmen kesetaraan gender di SIG adalah penunjukan Reni Wulandari sebagai Direktur Operasi SIG, perempuan pertama yang menduduki posisi tersebut. Reni menjabat sejak April 2023 melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Reni, lulusan Teknik Kimia Universitas Diponegoro dan Magister Business Administration dari Swiss German University, telah menempati berbagai posisi strategis di lingkungan SIG Group. Ia memulai karier sebagai General Manager Pabrik Tuban dan Pabrik Narogong di PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SBI), anak usaha SIG, kemudian menjadi Direktur Operasi di PT Semen Gresik sebelum diangkat sebagai Direktur Operasi SIG.
"Sejak hari pertama mengemban amanah sebagai Direktur Operasi SIG, saya menerapkan pendekatan visible-felt leadership. Kehadiran pemimpin dan interaksi langsung di lapangan sangat penting, terutama di area operasi yang didominasi karyawan laki-laki," kata Reni. Sebagai bagian dari minoritas gender, Reni mengaku tidak mengalami kendala terkait bias gender dalam menjalankan perubahan untuk mendukung kinerja operasi SIG.
Kesetaraan Gender Meningkatkan Kinerja
Menurut Reni, hal ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender di SIG bukan sekadar slogan, melainkan telah terimplementasi di seluruh lini. Reni menekankan bahwa peluang berkarier di sektor industri berat seperti semen menuntut kompetensi dan konsistensi tinggi. "Bukan melalui argumentasi atau perdebatan untuk memperoleh perlakuan setara, tetapi dengan menunjukkan bahwa kesetaraan gender mampu meningkatkan profitabilitas, inovasi, dan produktivitas melalui keberagaman perspektif," imbuh Reni.
Reni menilai, SIG dan BUMN lainnya telah memberikan kesempatan yang setara bagi perempuan dan laki-laki untuk berkembang. Hal ini merupakan respons terhadap kebutuhan bisnis, di mana kesetaraan gender menjadi salah satu faktor pendorong peningkatan kinerja organisasi. "Dalam lingkungan kerja berbasis merit, fokus pada kompetensi, kualifikasi, kinerja, dan profesionalisme akan menjadi keunggulan bagi organisasi," tutup Reni.



