AS Siap Blokade Selat Hormuz, Iran Balas Ancaman
Washington - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Menyusul kegagalan tersebut, AS kini mengancam akan memblokade Selat Hormuz, jalur perairan strategis yang sebelumnya dikuasai Iran selama berminggu-minggu.
Latar Belakang Blokade Iran
Iran telah secara efektif memblokade Selat Hormuz sejak lebih dari enam minggu lalu, sebagai respons terhadap kampanye pengeboman yang diluncurkan oleh AS dan Israel. Selama blokade ini, Teheran hanya mengizinkan kapal-kapal dari negara-negara sahabat untuk melintas, sementara melarang kapal-kapal yang berafiliasi dengan AS, Israel, dan pendukungnya. Parlemen Iran bahkan mengajukan rancangan undang-undang untuk memberlakukan biaya transit di selat tersebut dalam mata uang nasional, dengan larangan eksplisit bagi kapal AS dan Israel.
Blokade Iran telah menyebabkan gangguan global yang signifikan, mengingat sekitar 20 juta barel minyak global biasanya melintasi Selat Hormuz setiap harinya sebelum perang meletus. Gangguan ini meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi, yang menjadi daya tawar Iran di tengah gempuran dari AS dan Israel. Setelah kenaikan harga minyak, kedua pihak sempat menyetujui gencatan senjata selama dua minggu, tetapi perundingan damai berikutnya gagal mencapai titik temu.
Kegagalan Perundingan dan Ancaman AS
Perundingan damai tingkat tinggi antara AS dan Iran, yang dipimpin oleh delegasi AS JD Vance dan delegasi Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, berlangsung di Pakistan dalam upaya meredakan konflik. Namun, pertemuan yang dianggap sebagai kontak langsung paling signifikan dalam beberapa dekade ini berakhir buntu, dengan kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan tersebut.
Sebagai reaksi, Presiden AS Donald Trump mengumumkan ancaman blokade Selat Hormuz melalui platform Truth Social. "Berlaku segera, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses pemblokadean terhadap setiap dan seluruh kapal yang mencoba masuk, atau keluar, dari Selat Hormuz," kata Trump, seperti dilansir kantor berita AFP. Ia juga memperingatkan bahwa setiap kapal yang membayar bea masuk kepada Iran akan dihentikan di perairan internasional, dan menegaskan bahwa AS bertujuan membersihkan selat dari ranjau serta membukanya untuk semua pelayaran, tanpa mengizinkan Iran mengambil keuntungan dari kendali atas perairan tersebut.
Respons Iran dan Eskalasi Konflik
Iran membalas ancaman AS dengan menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh angkatan bersenjata mereka. Komando angkatan laut Garda Revolusi Iran menyatakan, "Seluruh lalu lintas... berada di bawah kendali penuh angkatan bersenjata," dan memperingatkan bahwa musuh akan terjebak dalam pusaran mematikan jika melakukan langkah yang salah.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, yang memimpin delegasi dalam perundingan damai, menegaskan bahwa negaranya tidak akan tunduk pada ancaman AS. "Jika mereka melawan, kami akan melawan, dan jika mereka mengajukan argumen logis, kami akan menghadapinya dengan logika. Kami tidak akan tunduk pada ancaman apa pun," kata Ghalibaf kepada wartawan setelah kembali ke Teheran dari Islamabad.
Langkah-Langkah Militer dan Dampak Global
Militer AS telah mengumumkan bahwa dua kapal perangnya telah melintasi Selat Hormuz pada awal operasi pembersihan ranjau. Selain itu, AS berencana memulai blokade semua pelabuhan Iran pada hari Senin (13/4) waktu setempat, yang akan diberlakukan secara adil terhadap kapal-kapal dari semua negara yang memasuki atau meninggalkan pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk di Teluk Arab dan Teluk Oman.
Blokade ini diperkirakan akan memperparah ketegangan global dan berdampak pada stabilitas harga minyak, yang sudah mengalami kenaikan akibat blokade sebelumnya oleh Iran. Konflik antara AS dan Iran terus memicu kekhawatiran akan eskalasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah, dengan potensi gangguan pada perdagangan dan keamanan internasional.



