Jakarta - Para negosiator dari Amerika Serikat (AS) dan Iran akan kembali ke Islamabad, Pakistan, pada pekan ini untuk melanjutkan pembicaraan intensif yang bertujuan mengakhiri perang yang berkepanjangan. Negosiasi ini diperkirakan akan tetap berjalan meskipun masih terdapat blokade pelabuhan Iran oleh militer AS yang sedang berlaku.
Jalur Diplomasi Masih Terbuka
Dilansir dari Reuters pada Selasa (14/4/2026), sejumlah sumber yang dekat dengan proses perundingan menyebutkan kemungkinan adanya perundingan lanjutan di Islamabad, Pakistan. Meskipun blokade AS telah memicu retorika keras dan ancaman dari Teheran, terdapat tanda-tanda yang jelas bahwa jalur diplomatik antara kedua negara masih tetap terbuka dan berfungsi.
Seorang sumber yang terlibat langsung dalam pembicaraan tersebut mengungkapkan bahwa kedua negara dapat kembali ke meja perundingan secepatnya, bahkan pada akhir pekan ini. Sebuah proposal konkret juga telah dibagikan kepada pemerintah Washington dan Teheran untuk mengirimkan kembali delegasi mereka ke Islamabad.
"Belum ada tanggal pasti yang telah ditetapkan secara resmi, namun delegasi dari kedua belah pihak membuka kemungkinan pertemuan dari hari Jumat hingga Minggu mendatang," kata seorang sumber senior Iran yang tidak ingin disebutkan namanya.
Pernyataan Trump dan Isu Senjata Nuklir
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah menghubungi pihaknya pada Senin (13/4), dan menyatakan keinginan untuk mencapai suatu kesepakatan damai. Namun, Trump menegaskan dengan tegas bahwa dirinya tidak akan menyetujui perjanjian apa pun yang memungkinkan Teheran untuk mengembangkan atau memiliki senjata nuklir.
Diketahui bahwa sejak AS dan Israel memulai konflik terbuka pada 28 Februari lalu, Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz bagi hampir semua kapal asing, kecuali kapal-kapal yang berasal dari negaranya sendiri. Iran menyatakan bahwa pelayaran di selat tersebut hanya diizinkan di bawah kendali penuhnya dan dikenakan biaya tertentu.
Dampak Blokade dan Balasan Militer
Hampir seperlima dari total pasokan minyak dan gas dunia sebelumnya melewati jalur sempit Selat Hormuz, sehingga dampak penutupan ini sangat luas terhadap ekonomi global. Sebagai langkah balasan, militer AS menyatakan telah mulai memblokir lalu lintas kapal keluar-masuk pelabuhan Iran pada Senin (13/4).
Teheran membalas dengan mengancam akan menyerang kapal angkatan laut yang berani melintasi selat tersebut, serta membalas terhadap pelabuhan negara-negara Teluk tetangganya yang mendukung blokade AS. Namun, sehari setelah blokade AS diberlakukan, belum ada laporan resmi mengenai tindakan langsung Washington terhadap kapal-kapal untuk menegakkan kebijakan tersebut secara fisik.
Data Pelayaran Terkini
Data pelayaran terbaru menunjukkan bahwa setidaknya tiga kapal tanker yang terkait dengan Iran telah berhasil melintasi Selat Hormuz tanpa menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. Hal ini mengindikasikan bahwa situasi di lapangan mungkin lebih kompleks daripada yang diumumkan secara publik oleh kedua pihak.
Negosiasi yang akan datang di Islamabad diharapkan dapat mengurangi ketegangan dan menemukan titik terang untuk resolusi damai, meskipun tantangan seperti blokade dan isu nuklir tetap menjadi hambatan serius. Para pengamat internasional memantau perkembangan ini dengan cermat, mengingat implikasinya yang signifikan bagi stabilitas kawasan dan keamanan global.



