Israel Serang Lebanon Jelang Gencatan Senjata Berlaku, 7 Warga Sipil Tewas
Serangan udara Israel di kota Ghazieh, Lebanon selatan, telah menewaskan sedikitnya tujuh orang warga sipil dan melukai 33 orang lainnya. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam sebelum gencatan senjata 10 hari antara kedua negara dijadwalkan mulai berlaku, menimbulkan kecaman dan keprihatinan internasional.
Korban Jiwa dan Operasi Pembersihan
Media pemerintah Lebanon melaporkan insiden ini sebagai "pembantaian terhadap warga sipil" di kota Ghazieh. Operasi pembersihan puing-puing dari lokasi serangan masih terus berlangsung untuk mengevakuasi korban dan menilai kerusakan yang lebih luas.
Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi korban tewas mencapai tujuh orang, namun menegaskan bahwa angka ini masih bersifat pendahuluan dan belum final. Jumlah korban luka yang tercatat sebanyak 33 orang menunjukkan dampak serius dari serangan tersebut terhadap masyarakat setempat.
Gencatan Senjata 10 Hari yang Diumumkan Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Lebanon telah mencapai kesepakatan untuk melakukan gencatan senjata selama 10 hari. Pengumuman ini disampaikan melalui platform Truth Social, seperti dilaporkan Al Jazeera.
"Saya baru saja melakukan percakapan yang sangat baik dengan Presiden Joseph Aoun yang terhormat dari Lebanon, dan Perdana Menteri Bibi Netanyahu dari Israel," kata Trump. "Kedua pemimpin ini telah sepakat bahwa untuk mencapai perdamaian antara negara mereka, mereka akan secara resmi memulai gencatan senjata 10 hari pada pukul 5 sore EST."
Konteks Serangan dan Reaksi Hizbullah
Serangan udara Israel ini menargetkan desa-desa di Lebanon selatan, dengan asap tebal terlihat mengepul dari lokasi serangan di wilayah Tyre. Serangan terjadi dalam situasi yang sangat tegang, menjelang dimulainya gencatan senjata yang diharapkan dapat meredakan ketegangan.
Kelompok Hizbullah menyatakan akan menghormati gencatan senjata di Lebanon asalkan Israel menghentikan serangan-serangannya. Pernyataan ini menegaskan bahwa stabilitas di wilayah tersebut sangat bergantung pada kepatuhan kedua belah pihak terhadap kesepakatan yang telah dibuat.
Insiden ini menyoroti kerapuhan proses perdamaian di Timur Tengah dan pentingnya dialog berkelanjutan untuk mencegah eskalasi kekerasan yang merenggut nyawa warga sipil.



