Kapal Tanker Malaysia Lintasi Selat Hormuz, Iran Tegaskan Tak Melupakan Teman
Kapal Malaysia Lintasi Selat Hormuz, Iran Tak Lupakan Teman

Kapal Tanker Malaysia Lintasi Selat Hormuz, Iran Tegaskan Tak Melupakan Teman

Sebuah kapal tanker yang disewa oleh perusahaan minyak nasional Malaysia, Petronas, telah berhasil melintasi Selat Hormuz menuju Johor, Malaysia. Kabar ini diumumkan langsung oleh Kedutaan Besar Iran di Kuala Lumpur melalui unggahan di platform media sosial X pada Senin, 6 April 2026.

"Kami telah mengatakan bahwa Republik Islam Iran tidak melupakan teman-temannya. Kapal Malaysia pertama telah melintasi Selat Hormuz," bunyi pernyataan resmi tersebut, yang ditulis dalam bahasa Inggris dan Melayu. Unggahan ini menegaskan komitmen Iran dalam menjaga hubungan baik dengan negara-negara sekutu di tengah ketegangan geopolitik yang melanda kawasan.

Detail Pelayaran dan Muatan Kapal

Kapal bernama Ocean Thunder tersebut memulai pelayarannya sehari setelah Iran menyatakan bahwa Irak dikecualikan dari blokade di Selat Hormuz. Menurut data dari lembaga keuangan LSEG dan data maritim Kpler, seperti dilaporkan Reuters, Ocean Thunder mengangkut sekitar satu juta barel minyak mentah jenis Basrah Heavy yang dimuat sejak 2 Maret 2026.

Banner lebar Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif untuk Telegram

Kapal ini diperkirakan akan membongkar muatannya di Pengerang, Johor, pada pertengahan April 2026. Ocean Thunder merupakan salah satu dari tujuh kapal terkait Malaysia yang telah mendapat izin khusus dari Iran untuk melintasi selat strategis tersebut, sebagaimana dikonfirmasi oleh dua narasumber kepada Reuters.

Ketujuh kapal tersebut terkait dengan perusahaan-perusahaan Malaysia, termasuk Petronas, Vantris Energy, dan MISC. Hal ini menunjukkan bahwa Iran secara selektif memberikan akses berdasarkan hubungan diplomatik yang telah terjalin.

Buah Diplomasi dan Hubungan Bilateral

Pada Maret 2026, Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, secara resmi menyampaikan ucapan terima kasih kepada Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, atas izin yang diberikan kepada kapal tanker minyak Malaysia. Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke, mengaitkan keberhasilan ini dengan "hubungan diplomatik yang baik dengan pemerintah Iran", seperti dilaporkan media setempat.

Filipina menjadi negara terkini yang mencapai kesepakatan serupa dengan Iran. Pejabat Iran menjamin "pelintasan yang aman, tanpa hambatan, dan cepat" bagi kapal-kapal berbendera Filipina melalui Selat Hormuz, menurut pernyataan Menteri Luar Negeri Filipina, Theresa Lazaro.

Kesepakatan ini dicapai setelah percakapan telepon yang sangat produktif dengan Teheran pada Kamis, 2 April 2026. Theresa menekankan bahwa kesepakatan tersebut sangat penting untuk membantu memastikan pasokan energi dan pupuk, mengingat Filipina mengimpor 98% minyaknya dari Timur Tengah.

Kebijakan Selektif Iran dan Respons Negara Lain

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditutup. Namun, ia menyatakan bahwa kapal-kapal yang terkait dengan negara-negara yang dianggap sebagai musuh atau pihak yang terlibat dalam konflik saat ini tidak akan diizinkan melintas.

"Kami berada dalam keadaan perang. Kawasan ini adalah zona perang, dan tidak ada alasan untuk mengizinkan kapal-kapal milik musuh dan sekutu mereka melintas. Namun selat tetap terbuka bagi pihak lainnya," ujarnya pada 25 Maret 2026.

Roger Fouquet dari Energy Studies Institute, National University of Singapore, berpendapat bahwa kasus Filipina, yang kerap dipandang sebagai sekutu AS, menunjukkan bahwa Iran "bersedia melakukan pemisahan" antara aliansi sebuah negara dan partisipasi aktifnya dalam konflik.

Negara-negara lain seperti Pakistan dan India juga telah melakukan pembicaraan dengan Iran. Pakistan mengumumkan pada 28 Maret 2026 bahwa Iran menyetujui izin untuk 20 kapalnya, sementara Iran secara terbuka menyambut kapal-kapal berbendera India dengan jaminan keamanan.

Upaya Indonesia dan Tantangan yang Tersisa

Di sisi lain, Indonesia masih berupaya membebaskan dua kapal tanker milik Pertamina, yaitu Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang terjebak di Selat Hormuz. Pjs Corporate Secretary Pertamina International Shipping (PIS), Vega Pita, menyatakan bahwa pihaknya bersama Kementerian Luar Negeri Indonesia telah mulai membahas teknis pembebasan setelah pemerintah Iran memberi respons positif atas upaya negosiasi.

Banner setelah artikel Pickt — aplikasi daftar belanja kolaboratif dengan ilustrasi keluarga

"PIS bersama Kemlu tengah membahas teknis agar kedua kapal dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman," kata Vega Pita, seperti dikutip Antara. Ia juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Kemlu dan menegaskan bahwa upaya diplomasi terus berjalan.

Namun, masih ada ketidakjelasan mengenai kondisi pelintasan kapal-kapal yang berhasil melintas, termasuk apakah ada pembayaran yang dilakukan. Sebuah kapal Jepang yang membawa gas alam cair juga dilaporkan berhasil melintas, tetapi perusahaan pelayaran Mitsui OSK Lines enggan berkomentar mengenai detail pembayaran atau mekanisme keamanan.

Ekonom energi Roc Shi dari University of Technology Sydney mengingatkan bahwa meskipun kesepakatan sejumlah negara dengan Iran menandai terobosan diplomatik, ini bukanlah penyelesaian masalah yang permanen. Masih belum diketahui seberapa lama jaminan-jaminan ini akan bertahan dan bagaimana operasi militer di kawasan tersebut akan mempengaruhinya, katanya.

Apalagi, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan Iran jika negara itu tidak membuka Selat Hormuz bagi semua kapal. Ancaman ini disampaikan pada Selasa, 7 April 2026 waktu Washington DC, yang setara dengan Rabu, 8 April 2026 pukul 07.00 WIB, menambah kompleksitas situasi di kawasan tersebut.